"Ini bukan saatnya untuk berdialog. Kini adalah saatnya untuk memberi tekanan agar bisa berdialog serius," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang Nario Maruyama kepada wartawan di New York saat menghadiri pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (18/7).
Komentar tersebut dilontarkan Jepang setelah Kementerian Pertahanan Korsel mengusulkan pertemuan dengan pihak Korut di perbatasan, tepatnya Tongilgak, Panmunjom, pada Jumat pekan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah ini juga menjadi tawaran pertama dari pemerintahan Presiden Moon Jae-in yang baru menjabat pada Mei lalu dengan sumpah membawa Korut ke meja perundingan.
Tawaran Moon terhadap rezim Kim Jong-un dilontarkan saat Amerika Serikat dan China mengalami kebuntuan dalam mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menerapkan sanksi lebih berat kepada Pyongyang.
Sanksi yang diajukan mencakup embargo minyak, larangan pekerja Korut dan pembatasan perdagangan lebih tegas bagi Korut seperti melarang kapal-kapalnya berlabuh di seluruh pelabuhan.
Jepang mendukung pengajuan sanksi baru tersebut sembari tetap menekan China dan Rusia--sekutu dekat Pyongyang--agar membatasi kerja sama ekonomi dengan pemerintahan Kim Jong-un.
Sebab, berdasarkan statistik Beijing, dalam enam bulan pertama di 2017 ini, perdagangan antara China dan Korut dilaporkan meningkat 10,5 persen menjadi US$2,5 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016 lalu.
Pada Mei lalu, Rusia membuka sebuah layanan kapal feri baru dari Vladivostok ke pelabuhan Rajin, Korut. Langkah ini dipandang berbagai pihak sebagai penguatan hubungan bilateral kedua negara.
"Yang terpenting adalah bisa menghentikan arus mata uang ke Korea Utara," tutur Maruyama, seperti dikutip AFP. (aal)