ISIS Terdesak, Imigrasi Kantongi Data WNI Pulang dari Suriah

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 09/08/2017 04:44 WIB
Ditjen Imigrasi Kemenkum-HAM menyatakan telah menerima data warga negara Indonesia yang pulang dari Suriah untuk mencegah penyebaran terorisme. Direktur Jenderal Imigrasi Ronny Franky Sompie mengatakan pihaknya telah mengantongi data WNI yang pulang dari Suriah. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menyatakan telah menerima data warga negara Indonesia yang pulang dari Suriah. Hal ini dilakukan guna mengawasi dan memantau kemungkinan kembalinya pejuang teroris asing atau foreign terrorist fighters (FTF) asal Indonesia yang bergabung dengan ISIS.

“Kami sudah terima data kepulangan WNI dari Timur Tengah, khususnya dari Suriah. Kami selalu pantau data keluar masuknya WNI, berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI khususnya dengan kedutaan besar dan konsul RI di luar negeri,” tutur Direktur Jenderal Imigrasi Ronny Franky Sompie dalam jumpa pers di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (8/8).

Menurut Ronny, pihak imigrasi selalu merekam data setiap WNI yang masuk dan keluar negeri, terlebih data-data warga Indonesia yang mengunjungi negara-negara rawan konflik. Dengan rekaman data ini, pihak keimigrasian bisa mudah memantau dan melihat jumlah WNI yang berkunjung atau pulang dari satu negara.


“Kami selalu rekam perpindahan WNI ke atau dari luar negeri, apalagi WNI yang memiliki sejumlah persoalan seperti terindikasi melakukan tindakan kriminal atau terorisme di luar negeri,” kata Ronny.

Ronny juga mengatakan WNI yang diindikasikan terlibat terorisme di luar negeri tak bisa serta-merta dipulangkan ke Indonesia. Proses pemulangan terduga terorisme memerlukan penanganan khusus dan pemeriksaan lebih lanjut dari Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Terkait isu terorisme, pemulangan WNI harus dikoordinasikan dulu dengan Polri dan BNPT. Pihak imigrasi hanya bisa menahan mereka di bandara atau pelabuhan untuk ditindaklanjuti aparat terkait,” papar Ronny.

Kembalinya pejuang teroris asing dari Irak dan Suriah ke negara asalnya tengah diwaspadai sejumlah negara di Asia Tenggara khususnya Indonesia.

Gelombang kepulangan FTF ini meningkat seiring dengan semakin tertekannya ISIS di Timur Tengah. Mosul, kota kedua terpenting ISIS setelah Raqqa di Suriah bahkan telah berhasil direbut kembali oleh pemerintah Irak beberapa waktu lalu.

Terdesaknya ISIS di Timur Tengah ditengarai mendorong FTF untuk kembali ke negara asalnya. Hal ini ditakutkan meningkatkan risiko terorisme sebab para militan itu bisa menyebarluaskan paham dan propaganda kelompoknya di negara asal.

Berdasarkan data Polri, sepanjang 2016 lalu sebanyak 600 WNI terbang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS dan sempalan kelompok teroris Al Qaidah, Front al-Nusra.

Sekitar 500 WNI lainnya, yang juga masuk ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris, dilaporkan berhasil dideportasi.