Malaysia Buru Muslim yang Datangi Perkumpulan Ateis

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Selasa, 08/08/2017 20:56 WIB
Malaysia Buru Muslim yang Datangi Perkumpulan Ateis Ilustrasi: Pemerintah Malaysia akan menindak tegas umat Muslim yang terbukti bersalah mendatangi perkumpulan ateis di Kuala Lumpur. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Malaysia akan mendalami klaim di sosial media yang menyebutkan sejumlah umat Muslim menghadiri pertemuan kelompok Atheist Republic di Kuala Lumpur, baru-baru ini.

Melansir Straits Times, Perwakilan Perdana Menteri di bidang keagamaan Malaysia Dato Dr Asyraf Wajdi Dusuki mengatakan departemen agama bisa mengambil tindakan tegas bagi warga Muslim yang kedapatan terlibat dalam aktivitas ateisme.

“Jika terbukti bahwa ada sekelompok umat Muslim ikut terlibat dalam kegiatan ateisme yang bisa memengaruhi keyakinan mereka, Departemen Agama Islam Negara Bagian bisa menindak mereka. Saya sudah meminta departemen bersangkutan menyelidiki masalah ini,” ujar Asyraf, belum lama ini.


Dia juga mengatakan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia akan dilibatkan dalam investigasi, karena kasus tersebut kini mendapat perhatian besar secara nasional.


Sebaliknya, Atheist Republic, organisasi nirlaba yang berbasis di Kanada, mengecam respons pemerintah Malaysia atas kasus tersebut.

“Apa yang kelompok kami lakukan terhadap orang lain? bagaimana mungkin kami disebut menyakiti orang lain,” kata Pendiri Atheist Republic Armin Navabi kepada Mail Online.

Dia menambahkan citra Negeri Jiran bisa tercoreng di mata internasional atas kasus kekerasan terhadap agama dan kepercayaan lain. Dia juga menyebut kelompoknya hanya bertujuan mempertemukan para ateis untuk bersosialisasi dan memberi dukungan komunitas, karea mereka kerap dianiaya.

Rumor kehadiran Muslim di pertemuan Atheist Republic mencuat ke publik setelah beberapa blog Islam mengunggah foto-foto pertemuan kelompk tersebut ke media sosial, yang memperlihatkan sekelompok umat Muslim berpose bersama Navabi.

Unggahan itu memicu protes keras dari warga Malaysia yang menyebut Navabi sebagai ‘orang murtad’ dan ancaman pemenggalan terhadap pemimpin Atheist Republic itu.

Kelompok ateis internasional itu memiliki lebih dari sejuta pengikut dan pendukung di media sosial, dan ratusan cabang di seluruh dunia termasuk di Indonesia dan Filipina.