Tillerson melontarkan komentar itu di Kementerian Luar Negeri saat meluncurkan laporan tahunan soal kebebasan beragama yang diwajibkan oleh akta Kongres 1998. Laporan itu menjadi yang pertama di bawah pemerintahan Donald Trump.
Arab Saudi, kata Tillerson, mesti "menjunjung lebih tinggi kebebasan beragama untuk semua warganya." Dia menggarisbawahi hukuman mati untuk pemurtadan, ateisme, penodaan agama dan penghinaan terhadap interpretasi Islam Saudi, serta serangan dan diskriminasi terhadap Syiah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan yang sama, Tillerson juga mengecam kelompok teror ISIS yang melakukan "genosida" terhadap minoritas agama.
Kelompok teror yang menguasai beberapa bagian Irak dan Suriah itu "jelas bertanggung jawab atas genosida terhadap masyarakat Yazidi, Kristiani dan Syiah di wilayah yang dikuasai atau pernah kuasai."
Sementara itu, Bahrain disebut "mesti berhenti mendiskriminasi masyarakat Syiah."
Tillerson mengatakan kebebasan beragama juga "diserang" di Pakistan. Dia menyoroti marjinalisasi Muslim Ahmadiyah yang dianggap non-Muslim oleh negara tersebut.
Selain itu, Tillerson menyebut Iran mengincar minoritas agama seperti Baha'i dan Kristen, dan pada 2016 telah mengeksekusi 20 orang atas tuduhan "memerangi Tuhan."
Tak berhenti sampai di situ, China pun disoroti karena menyiksa dan memenjarakan ribuan orang karena menjalankan keyakinan beragama. Anggota Falun Gong, Muslim Uighur dan Buddha Tibet menjadi korban yang disebut Tillerson.
Keputusan Tillerson untuk meluncurkan laporan itu bertolak belakang dengan caranya menangani laporan hak asasi manusia, Maret lalu. Dia menolak untuk mengungkapkannya secara pribadi sehingga memicu kritik.