Serangkaian serangan terkoordinasi oleh pemberontak Rohingya terhadap pasukan keamanan di utara Rakhine telah memicu gelombang pengungsi baru ke Bangladesh.
Setidaknya 109 orang tewas dalam bentrokan yang terjadi di Myanmar menyusul serangan tersebut. Menurut pemerintah, kebanyakan dari mereka adalah dari pihak militan, ditambah beberapa anggota pasukan keamanan dan warga sipil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para penjaga keamanan perbatasan Bangladesh mengatakan mereka telah memulangkan sekitar 550 orang Rohingya sejak Senin, meski Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah meminta agar para pengungsi itu ditampung.
Patroli perbatasan juga mencoba untuk menghalangi orang-orang untuk menyeberang.
Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar dan diklasifikasikan sebagai imigran ilegal, meski telah mengklaim berada di sana selama beberapa abad.
Kekerasan ini menjadi eskalasi terbaru dalam konflik yang sudah berlangsung sejak Oktober, saat serangan serupa dari para militan memicu respons keras dari militer yang disertai dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
"Kejadian ini tercela. Ini dapat diprediksi dan semestinya bisa dicegah," ujarnya.
Penasihat Keamanan Nasional Myanmar Thaung Tun mengatakan Myanmar telah diserang dan mempunyai hak penuh untuk mempertahankan diri. Dia juga mengatakan "personel keamanan telah diinstruksikan untuk memastikan tidak ada warga sipil yang terluka."