Sekjen PBB Minta Myanmar Lindungi Rohingya

Rinaldy Sofwan , CNN Indonesia | Selasa, 29/08/2017 08:41 WIB
Sekjen PBB Minta Myanmar Lindungi Rohingya Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan khawatir akan tewasnya warga sipil dalam bentrokan terbaru di Rakhine, Myanmar. (Reuters/Denis Balibouse)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres meminta pemerintah Myanmar melindungi warga minoritas Muslim Rohingya dari kekerasan akibat bentrokan terbaru yang pecah sejak akhir pekan lalu.

Bentrokan yang memakan 104 korban jiwa di Rakhine itu pecah menyusul serangan terkoordinasi oleh militan pemberontak Rohingya terhadap sejumlah kantor polisi dan satu pangkalan tentara pada Jumat pekan lalu.

"Sekretaris Jenderal, yang mengecam serangan-serangan itu, menegaskan pentingnya menyelesaikan akar masalah dari kekerasan itu dan pemerintah Myanmar mesti menyediakan perlindungan dan bantuan bagi mereka yang membutuhkan," bunyi pernyataan Stephane Dujarric, juru bicara Guterres, Selasa (29/8).

"Sekretaris Jenderal sepenuhnya mendukung rekomendasi dari Kofi Annan dan meminta pemerintah mengimplementasikannya dengan efektif."

Di saat yang sama, Guterres juga meminta Bangladesh untuk terus menerima dan melindungi pengungsi minoritas Muslim Rohingya dari Myanmar.

"Sekretaris Jenderal meminta otoritas untuk terus menerima Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan untuk mencari perlindungan di Bangladesh," ujarnya Dujarric.

Pemerintah Myanmar menyatakan telah mengevakuasi setidaknya 4.000 penduduk desa non-Muslim di tengah bentrokan yang telah memakan 104 korban di barat laut Rakhine, sementara ribuan lainnya dari etnis Muslim Rohingya berupaya melarikan diri ke arah perbatasan dengan Bangladesh.

"Banyak di antara mereka yang melarikan diri adalah perempuan dan anak-anak, beberapa di antara mereka luka-luka," kata Dujarric.
Ia mengatakan Guterres juga meminta Bangladesh mengizinkan badan-badan bantuan kemanusiaan akses bebas terhadap para korban kekerasan yang membutuhkan bantuan.

"Perserikatan Bangsa-Bangsa siap menyediakan semua dukungan baik bagi Myanmar maupun Bangladesh terkait hal itu," kata Dujarric.

Berdasarkan catatan Reuters yang dikumpulkan dari sejumlah rilis pemerintah hingga Minggu (28/8), korban jiwa dalam bentrokan terbaru ini sebagian besar berasal dari kelompok militan, ditambah 12 orang anggota pasukan keamanan dan beberapa warga sipil.

[Gambas:Video CNN]

Pasukan militer Myanmar (Tatmadaw) melaporkan sejumlah bentrokan yang melibatkan ratusan pemberontak Rohingya di bagian utara Rakhirne masih terjadi hingga hari itu.

"Pasukan Tatmadaw yang bergerak ke Desa Nanthataung untuk menggelar operasi juga berhadapan dengan teroris Benggala pada 9.00 hari ini. Mereka masih bertempur di sana," bunyi pernyataan militer Myanmar.

Istilah "Benggala" dinilai menghina oleh para warga Rohingya karena mengimplikasikan bahwa mereka dianggap imigran ilegal dari Bangladesh meski sudah beberapa generasi turun-temurun tinggal di Myanmar.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Duka Tanpa Akhir Rohingya