Serangan itu bertujuan untuk menghentikan kesepakatan evakuasi militan ISIS yang memperbolehkan mereka meninggalkan daerah terjepit di perbatasan Suriah-Libanon menuju wilayah kekuasaan jihadis di timur Suriah. Kesepakatan itu diatur oleh Hizbullah Libanon dan militer suriah.
Proses evakuasi itu merupakan bagian dari gencatan senjata yang disepakati setelah serangan Hizbullah dan tentara Suriah pekan lalu mendesak militan ISIS ke satu bagian kecil yang terjepit di perbatasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konvoy yang menurut Hizbullah membawa 308 militan dan 331 warga sipil itu kini secara efektif terdampar dan tidak bisa bergerak menuju wilayah kekuasaan ISIS.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana upaya evakuasi semacam itu dapat dengan mudah digagalkan dalam konflik yang melibatkan banyak pihak. Kesepakatan gencatan senjata semacam ini belakangan kerap digunakan pemerintahan Bashar al-Assad untuk mendesak pemberontak agar menyerah.
Lihat juga:Militer Irak Rebut Tal Afar dari ISIS |
ISIS di Suriah dan Irak semakin terdesak belakangan ini. Mereka telah kehilangan banyak wilayah kekuasaan dan kota-kota terpentingnya setelah sempat sukses memanfaatkan kekacauan di kedua negara, termasuk perang sipil enam tahun di Suriah.
Di Suriah, koalisi dukungan AS membela aliansi milisi Kurdi dan Arab di bagian utara yang tengah menyerang Raqqa, ibu kota de facto ISIS.
Sementara itu, pasukan Suriah yang didukung Rusia dan milisi Syiah dari Irak dan Libanon, termasuk Hizbullah, telah menguasai sebagian besar gurun pasir pusat yang sempat dikuasai ISIS. Mereka terus bergerak ke arah timur untuk membebaskan Deir al-Zor.
"Kami melubangi jalan dan menghancurkan jembatan kecil untuk mencegah konvoy ini bergerak lebih jauh ke arah timur," ujarnya kepada Reuters lewat telepon.
Dia kemudian mengatakan koalisi sempat menyerang kendaraan berisi militan ISIS yang bergerak dari daerah kekuasaannya menuju konvoy tersebut.
Namun, ia tidak tahu apakah konvoy evakuasi yang terdiri dari sejumlah bus berisi militan dan anggota keluarganya itu berada di daerah kekuasaan ISIS atau pemerintah Suriah.