Konvoy yang terdiri dari 17 bus berisi 300 pasukan bersenjata ringan beserta 300 warga sipil itu terdampar di padang pasir timur Suriah sejak Selasa setelah diblokade oleh serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat.
"Kami sedang berupaya mengubah jalur konvoy untuk yang kedua kalinya," kata seorang komandan di aliansi militer pendukung pemerintah Suriah, dikutip Reuters, Sabtu (2/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesepakatan itu membuat koalisi pimpinan AS dan Irak marah.
Koalisi Barat tidak mau melihat militan dengan kemampuan perang di area tempatnya beroperas, sementara Baghdad memandang pergerakan itu sebagai ancaman karena wilayah yang dituju para anggota ISIS berdekatan dengan perbatasan dengan negara tersebut.
Pemerintah Suriah yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad, dibantu Rusia dan milisi pro-Iran, bertempur melawan ISIS dan terus bergerak ke arah timur melintasi gurun pasir.
Komandan aliansi pro-Assad menampik laporan yang menyebut ratusan jihadis telah sampai di wilayah ISIS tersebut.
Koalisi telah bersumpah akan terus memantau konvoy tersebut dan mengganggu upaya apapun yang dilakukan untuk mereka kembali ke daerah rekan-rekannya. Namun, mereka menyatakan tidak akan menyerang secara langsung karena ada warga sipil.