Tuntutan pengusiran tersebut muncul dari sejumlah kelompok masyarakat sebagai respons atas tragedi yang menimpa etnis Rohingnya di Rakhine, Myanmar.
"Tarik dubes, usir dubes, nah ini kalau ditarik dubesnya tidak ada hubungan diplomatik, kalau (Indonesia) mau mengirimkan bantuan pakai apa," kata Wiranto saat memberikan kuliah umum di Universitas Tarumanagara, Jakarta, Selasa (5/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah, kata Wiranto, juga tidak akan gegabah dalam merespons persekusi yang dilakukan militer Myanmar itu.
"Pemerintah kita yang amanatnya bebas, aktif, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, pasti ada tindakan tapi tidak boleh gegabah. Tidak boleh kemudian emosi," ujarnya.
Ia mengaku kesal dengan aksi pelemparan bom molotov ke Kedutaan Besar Myanmar. Ia pun mengatakan pelaku tindakan tersebut harus ditangkap.
"Kalau sudah bom, pakai bahan peledak, merusak, itu bukan demo, tetap kami tangkap," katanya.
"Silakan saja demo, itu kan merupakan hak asasi, silakan saja, tapi tertib jangan menganggu ketentraman masyarakat lain," ucap Wiranto.