Pada 1969 silam, Korut sempat menembak jatuh pesawat pengintai AS yang terbang di ruang udara internasional, menewaskan 31 orang awak yang dibawanya. Pesawat yang tidak bersenjata itu ditembak dua jet tempur Mig-21 sekitar 90 mil laut dari pesisir Korea Utara.
Walau kejadian serupa bisa saja terulang, para analis menyebut Korut tidak akan lagi menggunakan jet tempur untuk menjatuhkan lawannya dan itu pun tidak bisa begitu saja dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudal anti-pesawat paling canggih yang dimiliki Korut dalam gudang persenjataannya adalah KN-06. Senjata itu adalah pengembangan domestik dari SAM S-300 Rusia yang "mempunyai kemampuan sangat baik," kata Gatling kepada The Telegraph.
Detail kapabilitas sistem itu masih belum diketahui karena sejauh ini baru dua uji coba yang terdeteksi. Walau demikian, media pemerintah Korut menyatakan gangguan pada persenjataan itu telah dibenahi dan kini bisa dikerahkan di seluruh penjuru negeri.
Di sisi lain, pertahanan yang ada pada jet pengebom B-1B dirahasiakan oleh militer AS. Namun, diketahui pesawat itu, beserta para pengawalnya, dilengkapi dengan berbagai sistem yang didesain untuk mengganggu rudal.
[Gambas:Video CNN]
Serangan apapun bakal terdeteksi secara instan, kata Gatling, dan jet tempur yang mengawalnya bakal siap mengeliminasi radar pemandu rudal di daratan.
Pilihan untuk mencegat jet tempur AS dengan pesawat pun terbatas. "Ada banyak masalah dengan Angkatan Udara Korea Utara," kata Gatling, merujuk pada teknologi terbaru Korut yang berasal dari era 1980-an seperti Mig-29.
"Jadi peralatan mereka kuno, awak mereka tidak terlatih dan mereka akan sangat tertinggal dalam konfrontasi apapun dengan pasukan garis depan AS."
Jet tempur AS, F-22 Raptor. (REUTERS/Toby Melville) |
Dengan waktu yang sangat sempit untuk mengevakuasi, jutaan warga tak bersalah akan terjebak di antara pertempuran jika Amerika dan para sekutunya memulai serangan lebih awal. Kedua pihak pastinya bakal menderita banyak korban.
Meski ia tidak mendapatkan penjelasan mengenai kemungkinan serangan AS secara spesifik, ia mengatakan kepada CNN bahwa operasi ini kemungkinan besar bakal melibatkan sejumlah strategi yang bertujuan untuk menetralisir pertahanan Korea Utara dan kemampuannya melakukan serangan balasan.
Untuk mengatasi kemampuan rudal darat-ke-udara Korut yang mumpuni, Amerika kemungkinan akan menggunakan pesawat tempur siluman seperti F-22, F-35 dan pesawat pengebom B-2 untuk membantu F-15 atau F-16 Korea Selatan dan Jepang, ujarnya.
Pesawat tanpa awak pun kemungkinan bisa digunakan untuk membatasi risiko terhadap para pilot.
(aal)
Jet tempur AS, F-22 Raptor. (REUTERS/Toby Melville)