Warga Australia Serahkan 51 Ribu Senjata Ilegal

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 06/10/2017 11:50 WIB
Pasca insiden penembakan Las Vegas, PM Australia mengumumkan bahwa warganya sudah menyerahkan 51 ribu senjata ilegal melalui program amnesti selama tiga bulan. Ilustrasi. (Reuters/Jim Young)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, mengatakan bahwa sekitar 51 ribu senjata ilegal sudah diserahkan dalam program amnesti yang jatuh tempo pada hari ini, Jumat (6/10).

Sebagaimana dilansir Reuters, semua senjata ilegal yang berhasil dikumpulkan dalam program amnesti tiga bulan ini kemudian akan dihancurkan.

Merujuk pada catatan aparat, jumlah tersebut sebenarnya masih seperlima dari total senjata ilegal di Australia.
Namun, Turnbull memastikan bahwa Australia akan terus menerapkan hukum kepemilikan senjata ketat, termasuk melarang pistol dan senapan semi-otomatis yang digunakan oleh pelaku penembakan di Las Vegas.


"Pembunuh di sana (Las Vegas) memiliki koleksi senjata semi-otomatis yang sebagai orang di posisinya seharusnya tidak diperbolehkan di Australia," ujar Turnbull.

Isu kepemilikan senjata memang kembali mencuat setelah insiden penembakan massal yang menewaskan 59 orang terjadi di Las Vegas pada Minggu (1/10) lalu.

Sang pelaku, Stephen Paddock, memiliki banyak senjata semi-otomatis yang dipasangi alat sehingga bisa bekerja layaknya senapan otomatis. AS sendiri hanya melarang penggunaan senapan otomatis.

[Gambas:Video CNN]

Berondongan peluru dari senapan Paddock pun melesat dengan cepat sehingga dapat merenggut 59 nyawa dan melukai ratusan orang lainnya.

Setelah insiden ini, AS pun mulai membicarakan kemungkinan pelarangan penggunaan alat yang dikenal dengan nama bump stocks tersebut.

Sementara itu, Australia sudah lebih dulu memberlakukan hukum senjata yang ketat setelah pembunuhan massal dengan korban 35 orang terjadi di Tasmania pada 1996 silam.

Sejak saat itu, tak pernah ada lagi penembakan massal di Australia.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK