Sejak akhir Mei lalu, militan yang mereka pimpin bertempur dengan militer dan menduduki sebagian besar Marawi. Serangan di kota itu dipicu oleh operasi penggerebekan Hapilon.
Pemimpin Abu Sayyaf sekaligus pemimpin ISIS Asia Tenggara itu meminta bantuan militan Maute, yang sama-sama berbaiat kepada kelompok tersebut, untuk menggempur lokasi tempatnya bersembunyi dari kejaran tentara, yakni di Marawi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak itu, koalisi Maute-Hapilon pun tak hanya dinilai menjadi ancaman bagi pemerintah tapi juga bagi sesama kelompok militan lain di Filipina seperti seperti Front Pembebasan Islamis Moro atau MILF.
Sebab, kerja sama kedua kelompok ini mampu menarik simpatisan dari organisasi militan lain untuk bergabung dengan mereka.
Hartman mengatakan banyak pasukan dan simpatisan muda yang kecewa sejak MILF menyetujui kesepakatan damai dengan pemerintah pada 2014 lalu.
Perpecahan internal dan ikatan keluarga yang dekat antara kedua militan ini memperbesar peluang Maute untuk mendapat dukungan dari para anggota MILF.
Selain itu, kolaborasi Maute-Hapilon pun dianggap sebagai ancaman jangka panjang bagi pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte yang lebih berbahaya daripada militan-militan sebelumnya. Alasannya, propaganda koalisi ini dinilai bisa menyebar dengan sangat luas.
Cap ISIS tersebut, tutur Hartman, juga mampu menarik sejumlah simpatisan muda di Asia Tenggara untuk bergabung dengan Maute.
"Maute secara umum juga mewakili gerakan ekstremisme generasi masa depan di Asia Tenggara, dengan jebolan para pemimpin yang terlatih di Mesir dan Yordania hingga jaringan luas di Timur Tengah dan kawasan lain," tutur Hartman.
(aal)