Peringati Penyanderaan di Kedubes AS, Iran Pamerkan Rudal

Deddy S, CNN Indonesia | Minggu, 05/11/2017 02:23 WIB
Peringati Penyanderaan di Kedubes AS, Iran Pamerkan Rudal Warga Iran berkumpul dekat replika rudal balistik jarak menengah Ghadr saat terjadinya unjuk rasa memperingati 38 tahun pendudukan dan penyanderaan Kedubes AS pada 1979. (AFP PHOTO / ATTA KENARE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memperingati pengambilalihan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran pada 1979, Iran memamerkan salah satu rudal balistik terkuatnya, Ghadr, saat ribuan orang turun ke jalan, Sabtu (4/11). Pengunjuk rasa juga menyerukan yel-yel dan poster anti-Amerika.

Seorang pejabat Iran bahkan menyebut Presiden AS Donald Trump sudah ‘gila’. "Semua pemerintah memastikan bahwa presiden Amerika adalah orang gila yang membawa orang lain ke arah tindakan bunuh diri," kata Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, di depan para demonstran, seperti dilaporkan kantor berita Tasnim, yang dikutip oleh Reuters, Sabtu (4/11).

Peringatan peristiwa 1979 itu kali ini diikuti lebih banyak orang ketimbang saat Barack Obama masih menjadi Presiden AS. Relasi AS dan Iran memang memanas kembali, terkait program rudal Iran.


Pada bulan lalu, Presiden Trump menolak untuk mengesahkan kembali kepatuhan Iran terhadap perjanjian nuklir 2015 dengan Eropa, Rusia, dan China, termasuk AS. Melalui perjanjian itu, sebagian besar sanksi internasional terhadap Iran dicabut dengan imbal balik Iran membatasi aktivitas nuklirnya, yang dikhawatirkan mengarah pada pengembangan bom atom.

Iran telah menegaskan kembali komitmennya terhadap kesepakatan tersebut dan inspektur PBB telah memverifikasi bahwa Iran akan mematuhi persyaratan-persyaratannya. Tapi jika AS kemudian menarik diri, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengancam akan menghancurkan pakta itu.

“Kebijakan Trump melawan rakyat Iran telah membawa rakyat turun ke jalan hari ini,” kata Shamkhani.   

Tapi Shamkhani, seperti disebut Reuters, tidak menyebutkan negara mana saja yang ikut menyebut Trump sebagai ‘orang gila’. Negara-negara yang terlibat dalam perjanjian nuklir itu, yaitu Rusia, China, Inggris, Prancis, dan Jerman, sendiri sudah menyuarakan kegelisahannya, bahwa sikap Trump akan memancing ketidakstabilan situasi di Timur Tengah.

Iran sendiri, melalui sejumlah pejabat seniornya, sudah menegaskan bahwa program rudal mereka lebih untuk pertahanan dan itu tidak bisa dinegosiasikan lagi.

Sebagai simbol protesnya, militer Iran memamerkan replika rudal balistik jarak menengah Ghadr yang memiliki daya jelajah sejauh 2.000 kilometer, di dekat bekas kedutaan AS di Teheran, yang sekarang telah menjadi sebuah pusat kebudayaan. Rudal berbahan bakar cair ini bisa menjelajah sampai ke Israel.

“Versi baru Ghadr H bisa diluncurkan dari platform bergerak atau silo pada posisi berbeda-beda dan bisa membebaskan diri dari perisai pertahanan anti-rudal dengan kemampuannya menghindari pelacakan radar,” begitu laporan kantor berita Fars News, seperti dikutip CNN.

“Pikiran Amerika bahwa Iran akan menghentikan kekuatan militernya adalah mimpi anak-anak,” kata Brigadir Jenderal Hossein Salami, Wakil Kepala Garda Revolusi, yang mengawasi program pengembangan rudal itu.

Mengingat 1979
Hubungan diplomatik AS dan Iran rusak setelah revolusi 1979, ketika sejumlah mahasiswa garis keras menyerbu kedutaan besar AS dan menyandera 52 warga AS selama 444 hari.

Aksi ini merupakan buntut demonstrasi dan kerusuhan yang menolak pemerintahan otoriter Shah Mohammed Reza Pahlevi, yang merebak pada 1978.

Pada Januari 1979, Shah kemudian melarikan diri ke Mesir. Menyusul pada 1 Februari 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali ke Iran setelah 14 tahun dalam pembuangan.

Nah, pada 22 Oktober 1979, Shah diizinkan masuk ke AS untuk menjalani pemeriksaan kesehatan atas kanker yang dideritanya. Hal ini memicu unjuk rasa besar-besaran oleh mahasiswa Iran di depan kedubes AS yang kemudian memicu penyanderaan pada 4 November 1979. Mereka menuntut AS mengekstradisi Shah ke Iran.
(ded/ded)