Dilansir oleh AFP, pertempuran ini menandai pecahnya kubu pemberontak. Setelah sebelumnya Huthi bergandengan dengan bekas presiden Ali Abdullah Saleh, kini Saleh malah bergabung dengan pasukan koalisi.
Kantor politik Huthi menuding Saleh sedang melakukan kudeta atas aliansi yang selama ini tak pernah dipercayainya. Untuk mengantisipasi serangan Huthi, pasukan yang loyal kepada Saleh diterjunkan ke jalanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Sanna terpaksa melindungi dirinya dengan bertahan di dalam rumah agar tak terkena peluru nyasar pada penembak jitu dan ledakan bom.
Kementerian Pendidikan menghentikan aktivitas belajar pada hari Minggu, yang merupakan hari pertama sekolah. Saksi mata mengatakan sejumlah mayat korban pertempuran masih dibiarkan tergeletak di jalanan.
Iyad al-Othmani, 33 tahun, mengatakan tak bisa meninggalkan rumahnya selama 3 hari terakhir karena pertempuran itu. Mohammed Abdullah, seorang pegawai swasta, mengatakan jalanan dekat rumahnya diblokir oleh kaum milisi dan dia memilih tak keluar rumah karena tak ingin menghadapi pemeriksaan dari kubu mana pun.
“Sanaa sudah seperti kota hantu, ada perang jalanan dan orang-orang terkurung di rumah mereka,” kata seorang aktivis di International Organisation for Migration di Sanaa.
Saleh dan Huthi sudah tiga tahun bergabung untuk memaksa pemerintahan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi keluar dari Sanna. Tapi kini situasi perang di Yaman berubah seiring pecah kongsinya kaum pemberontak itu.
Saleh memerintah di Yaman sebagai Presiden selama 33 tahun, setelah penyatuan Yaman Utara dan Selatan pada 1990. Terkenal sebagai sekutu Arab Saudi, Saleh pernah menggelar enam peperangan melawan Huthi, kaum Syiah Zaidi dari utara Yaman.
Saleh mundur pada 2012 dan menyerahkan kekuasaan kepada Hadi, yang kini hidup dalam pengasingan di Arab Saudi.
Pada 2014, Saleh mengumumkan bergabungnya ke Huthi, mereka mengambil alih Sanaa dan membentuk pemerintahan pararel, sedang pemerintahan Hadi mengungsi ke Aden. Hadi kemudian mendapat dukungan koalisi yang dipimpin Arab Saudi dan ekskalasi pertempuran pun meningkat. Sudah lebih dari 8.750 orang tewas dan krisis kemanusiaan melanda Yaman.