Liga Arab Bahas Niat Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

Natalia Santi, CNN Indonesia | Senin, 04/12/2017 14:33 WIB
Liga Arab Bahas Niat Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel Pasukan Israel berjaga di luar Mesjid Kubah Batu, Kompleks Haram Al-Sharif, Yerusalem. Liga Arab berencana menggelar sidang darurat membahas rencana AS untuk mengakui Yerusalem menjadi Ibu Kota Israel. (AFP PHOTO / AHMAD GHARABLI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Liga Arab akan menggelar pertemuan luar biasa untuk membahas rencana Amerika Serikat untuk memindahkan kedutaannya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu, Asisten Sekretaris Jenderal Liga Arab, Hossam Zaki, kepada wartawan di Kairo mengatakan pertemuan para wakil negara-negara Liga Arab itu akan digelar Selasa, (4/12) atas permintaan Palestina.

Langkah tersebut diambil di tengah kabar bahwa Presiden AS Donald Trump bersiap untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Jika itu terjadi maka perdamaian Israel-Palestina kian mustahil. Yerusalem Timur diharapkan Palestina sebagai Ibu Kota jika suatu saat merdeka.
Minggu (3/12), Menteri Luar Negeri Palestina Riad al-Maliki menyerukan agar Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) membahas situasi di Yerusalem.


Permintaan itu disampaikan lewat pembicaraan telepon diplomat utama Palestina tersebut dengan Ketua Liga Arab Ahmed Aboul-Gheit dan Sekretaris Jenderal OKI Yousef al-Othaimeen.

Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan langkah itu akan membahayakan masa depan proses politik di kawasan. 

Sejak kampanye pemilihan presiden 2016, Trump berjanji untuk memindahkan kedutaan Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem. Langkah itu dianggap sebagai pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Menurut kabar yang dilansir CNN, Trump berencana mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel paling cepat Selasa (5/12).

Namun kabar itu dibantah oleh Penasihat Senior Jared Kushner, yang juga menantu Trump. Dalam seminar tahunan soal kebijakan AS di Timur Tengah yang digelar lembaga kajian Brookings Institution, Washington, Minggu (3/12), Kushner menyatakan bahwa Trump belum memutuskan hal tersebut. 

"Dia masih mempertimbangkan berbagai fakta, barulah dia mengambil keputusan. Dia akan memberitahukan kepada Anda, bukan saya," kata Kushner seperti dilaporkan Reuters.
Di masa lalu, para presiden Amerika Serikat menegaskan bahwa status Yerusalem harus diputuskan lewat negosiasi. Hal ini lantaran di kota tersebut terdapat tempat suci bagi tiga agama, Islam, Kristen dan Yahudi. Selain Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota jika mereka merdeka, komunitas internasionasl juga tidak mengakui klaim Israel atas seluruh kota Yerusalem.

"Langkah apapun yang diambil Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel akan memicu ekstremisme dan kekerasan," kata Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit, Sabtu (2/12).

Pejabat senior Yordania, presiden KTT Liga Arab saat ini telah memulai konsultasi untuk menggelar pertemuan darurat Liga Arab dan OKI sebelum Trump mengumumkan pengakuan terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pekan ini.
(nat)