"Presiden Trump melekatkan namanya pada sejarah ibu kota kami untuk selamanya," kata Netanyahu sebagaimana dikutip AFP, Kamis (7/12).
"Namanya kini akan dipampang dengan membanggakan bersama nama-nama lain dalam sejarah kota ini."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat internasional tidak mengakui klaim pemerintah zionis atas kota yang diperebutkan karena alasan historis dan religius ini. Walau demikian, warga Israel sejak awal tetap menganggap Yerusalem sebagai ibu kota abadinya.
Keputusan kontroversial itu memicu kemarahan internasional dan dinilai bisa mengganggu stabilitas dan keamanan kawasan.
"Berdasarkan kesimpulan pemantauan situasi oleh staf umum, diputuskan bahwa sejumlah batalyon akan memperkuat area (Tepi Barat), juga intelijen tempur dan pertahanan teritorial," bunyi pernyataan militer Israel.
"Selain itu, lebih banyak pasukan juga disiagakan, sebagai bagian dari kesiapan menghadapi kemungkinan perkembangan yang akan datang."
(aal)