“Myanmar sepakat akan mengembalikan pengungsi dari Bangladesh,” kata Penasihat Keamanan Nasional U Thaung Tun usai menghadiri pertemuan bilateral dengan Retno di sela Bali Democracy Forum di Serpong, Banten, Kamis (7/12).
Dia mengatakan repatriasi pengungsi ini akan berjalan sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui bersama Bangladesh. Meski begitu, Thaung Tun menekankan kembali bahwa kesepakatan ini berlaku bagi pengungsi yang bisa membuktikan diri pernah tinggal di Myanmar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thaung Tun mengatakan saat ini pemerintahnya masih terus mengerjakan kesepakatan itu bersama Bangladesh.
Dalam pertemuan bilateral dengan Retno, Thaung Tun juga mengungkapkan apresiasi kepada Indonesia yang dinilai telah berperan banyak membantu Myanmar menangani krisis pemicu eksodus ratusan ribu pengungsi ini.
“Indonesia memainkan peran yang sangat positif dalam membantu kami. Bantuan ini sangat konstruktif. Kami harap hubungan kedua negara bisa terus berkembang,” kata Thaung Tun.
Myanmar terus menjadi sorotan internasional sejak krisis kemanusiaan yang dipicu bentrokan antara kelompok bersenjata dan militer di pecah di Rakhine pada 25 Agustus lalu.
Sejak itu, laporan kekerasan, penyiksaan, hingga pembunuhan yang mengincar etnis minoritas Rohingya terus bermunculan. Kekerasan tersebut diperkirakan telah menewaskan 1.000 orang, terutama Rohingya.
Sebab, sebagian besar Rohingya selama ini dianggap sebagai imigran ilegal asal Bangladesh dan tidak diakui status kewarganegaraannya.
(aal)