Dituding Intervensi, Rusia Sebut Trump Imperialis

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 19/12/2017 20:12 WIB
Dituding Intervensi, Rusia Sebut Trump Imperialis Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut strategi baru Trump menunjukkan sikap Imperialis. (AFP Photo/Maxim Shemetov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kremlin menyebut strategi nasional baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan karakter 'imperialis'. Walau demikian, Rusia menyambut kemauan Washington untuk bekerja sama dalam berbagai bidang.

Hal itu diungkapkan pada Selasa (19/12), sehari setelah Trump mengungkap dokumen keamanan berdasarkan visi "America First" yang dia usung. Di dalamnya, AS menyebut Rusia kerap mengintervensi urusan dalam negeri di seluruh dunia.

"Dibaca sekilas, strategi yang menyebut negara kami dalam satu dan lain hal ... (menunjukkan) karakter imperialis," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan.


Dokumen tersebut, kata Peskov, juga menunjukkan "ketidakmauan untuk merelakan ide dunia unipolar, lebih jauh, berkeras menolak dunia multipolar."

Dokumen strategi Trump tidak menyinggung tudingan spesifik yang dibuat sejumlah badan keamanan AS terkait ikut campur Moskow dalam pemilihan umum 2016. Namun, strategi itu menunjukkan pandangan lama para diplomat Negeri Paman Sam yang menilai Rusia secara aktif mengganjal kepentingan Amerika di dalam dan luar negeri.

"Kami tidak bisa setuju dengan sikap yang memandang negara kami sebagai ancaman terhadap Amerika Serikat," kata Peskov sebagaimana dikutip Reuters. "Di saat yang sama, ada beberapa hal yang lumayan positif, terutama, kesiapan untuk bekerja sama di bidang yang berkesesuaian dengan kepentingan Amerika. 
Trump kerap mengatakan ingin memperbaiki hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, meski Rusia telah membuat frustrasi dengan kebijakan di Suriah dan Ukraina dan tidak banyak membantu menghadapi ketegangan dengan Korea Utara.

Dalam pidato pemaparan strategi itu, Senin, Trump mengatakan dirinya menerima telepon dari Putin yang berterima kasih telah diberi informasi intelijen sehingga bisa menggagalkan upaya serangan bom di St Petersburg.

Sementara itu, Kementerian Kehakiman AS menyelidiki kemungkinan tim sukses Trump berkolusi dengan Rusia dalam pemilu presiden 2016. Hal tersebut berulang kali dibantah oleh kedua pihak.

(aal)