Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) dibubarkan pada November lalu atas permintaan pemerintahan Hun Sen. Langkah ini, menurut kelompok pemerhati HAM, merupakan "kematian" demokrasi di negara Asia Tenggara tersebut.
Dalam pidato yang diutarakan di hadapan ribuan pekerja garmen di sebuah pagoda di pinggiran Phnom Penh, Rabu (27/12), Hun Sen mengatakan dirinya akan berkuasa untuk dua kali masa jabatan lagi dan meminta para buruh untuk memilih partainya, Partai Rakyat Kamboja (CPP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya harap Anda, juga orang tua dan kakek/nenek Anda semua, jika masih hidup, dan keluarga Anda untuk terus memilih, mendukung CPP pada 29 Juli 2018."
Lihat juga:Kamboja Tolak Mentah-mentah Bantuan Dana AS |
Hun Sen berupaya untuk meraih suara dari para buruh garmen sebelum pemilihan umum. Dia menjanjikan uang untuk pekerja perempuan yang melahirkan dan lain-lain.
"Anda harus ingat bahwa jika Anda ingin terus bekerja ... Anda tidak boleh memberi kesempatan pada siapapun, termasuk warga Kamboja dan warga asing, untuk menghancurkan perdamaian," kata Hun Sen.
Hunsen yang merupakan kader pembelot Khmer Merah dinilai berhasil membantu Kamboja mencapai perkembangan perekonomian. Namun, dia juga dikritik karena bersikap keras terhadap kelompok-kelompok masyarakat sipil dan media.
(aal)