Kepolisian Toronto menyelidiki insiden kejahatan kebencian (hate crime) setelah menerima laporan dari anak perempuan tersebut. Si anak melaporkan bahwa seorang pria yang membawa sebilah gunting mengancam akan memotong hijabnya saat dia akan berangkat sekolah, Jumat (12/1) pagi.
Pada Senin (15/1), polisi memastikan tak ada tindak kejahatan yang terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarga anak perempuan tersebut belum dapat dimintai keterangan.
Pernyataan polisi tersebut diungkapkan tekanan terhadap pemerintah Kanada untuk memerangi sentimen anti-muslim, setahun setelah penembakan fatal di sebuah mesjid.
Para peneliti mencatat peningkatan aktivitas ektremis sayap kanan jauh di Kanada, sebagian besar membidik warga muslim.
Survei Komisi Hak Asasi Manusia Ontario, tahun lalu menemukan sentimen sangat negatif pada muslim meningkat dibandingkan pada kelompok lain.
"Kami semua sangat khawatir akan dampak semua ini," kata pegiat HAM Kanada, Amira Elghawaby.
Dia menambahkankan klaim palsu anak itu bisa membuat orang enggan melapor jika menjadi sasaran kejahatan kebencian. Atau bisa juga mengurangi kepercayaan saat mereka melaporkan kejadian tersebut.
Pada 29 Januari lalu, enam jemaah tewas dalam penembakan di sebuah mesjid di Kota Quebec. Pelaku adalah seorang mahasiswa keturunan Prancis-Kanada. Dia dikenakan dakwaan pembunuhan dalam kasus yang disebut Perdana Menteri Justin Trudeau sebagai "serangan teroris".
Dewan Muslim Nasional Kanada meminta pemerintah untuk mendeklarasikan hari penembakan di mesjid itu sebagai hari peringatan Islamofobia. Perdana Menteri Quebec Philippe Couillard telah menolak permintaan itu. Adapun Trudeau belum menyatakan apa pun.
(nat)