"Zimbabwe akan menggelar pemilu dalam empat atau lima bulan ke depan," kata Mnangagwa dikutip media lokal sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (18/1).
Pemilu ini merupakan yang pertama kalinya digelar negara di selatan Afrika itu tanpa melibatkan eks pemimpinnya yang baru dikudeta, Robert Mugabe.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama setelah Mugabe menyatakan mundur, Mnangagwa juga langsung membubarkan kabinet pendahulunya itu.
Meski hampir seluruh warga merayakan pengunduran diri Mugabe, yang selama ini dituding menjadi penyebab kemunduran ekonomi negara, banyak kalangan mengkhawatirkan masa depan Zimbabwe di bawah Mnangagwa.
Sejumlah pihak yang khawatir menilai rekam jejak Mnangagwa dapat membuatnya menjadi "Mugabe selanjutnya."
Saat ini, partai berkuasa, ZANU-PF, masih memegang mayoritas dua pertiga kursi parlemen. Dalam pemilu nanti, Mnangagwa diprediksi berhadapan dengan rival utamanya, yaitu pemimpin Gerakan Perubahan Demokratis, Morgan Tsvangirai.
Namun, Tsvangirai belakangan dikabarkan menderita penyakit kanker. Kabar ini dianggap melemahkan dan memecah-belah suara partainya.
Pemilu kali ini akan menjadi sorotan dunia internasional karena dianggap sebagai ujian pertama Zimbabwe sebagai negara demokratis di bawah rezim baru.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, pemilu mendatang juga diharapkan mampu membawa stabilitas politik Zimbabwe dan menjadi kunci memperbesar peluang perbaikan ekonomi di negara Afrika itu.
Zimbabwe juga diharapkan bisa memperbaiki hubungannya dengan negara Barat dan lembaga keuangan internasional di era baru ini.
Sejak 2000, pemilu Zimbabwe kerap diwarnai kekerasan dan perselisihan politik. Di bawah kepemimpinan Mugabe, Zimbabwe bahkan dianggap sebagai paria internasional. (has)