Kelompok pemerhati hak asasi manusia itu menyebut Awda dirawat di rumah sakit di Jedah, sebelah barat Mekkah. Amnesty itu juga menyatakan keluarga tidak diperkenankan berkomunikasi dengan Awda sejak ia ditahan.
"Kejadian Sheikh Salman al-Awda yang saat ini dirawat di rumah sakit, selain mengkhawatirkan dan traumatis bagi keluarga, kami juga menyoroti tindakan memalukan yang dilakukan aparat Saudi terhadapnya," ucap Direktur Kampanye Amnesty International di Timur Tengah, Samah Hadid, Kamis (18/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama penahanan, Awda dikabarkan hanya satu kali diizinkan berkomunikasi dengan keluarganya via telepon, yakni pada Oktober lalu.
Sejak awal Juni lalu, Saudi bersama sekutunya seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir, memutus hubungan diplomatik, ekonomi, dan segala akses perhubungan dengan Qatar.
Keempat negara menganggap Doha telah mendukung aktivitas terorisme dan radikalisme yang mengancam stabilitas di kawasan. Qatar menampik seluruh tudingan yang dianggap tidak berdasar itu.
Menurut keluarga, Awda dan sejumlah tokoh terkemuka lainnya diminta Saudi mendukung kebijakan pemerintahnya itu, namun dia menolak.
Lebih lanjut, Amnesty menekankan bahwa otoritas Saudi harus memastikan hak-hak Awda tetap terjamin, termasuk mendapat perawatan medis yang diperlukan sampai benar-benar pulih.
"Pihak berwenang harus memastikan bahwa Awda menerima seluruh perawatan medis yang diperlukan, bahwa dia juga harus diizinkan berkomunikasi dengan keluarga dan pengacraanya, dan terutama bahwa dia harus dibebaskan dari penahanan," kata Hadid.
(aal)