Hubungan kedua negara menegang setelah Korea Utara berkeras mengembangkan program senjata nuklir di tengah penentangan masyarakat internasional.
Korut menyatakan senjata itu penting untuk menangkal ancaman dari tetangganya yang rutin berlatih militer dengan Amerika Serikat. Sementara, Korsel enggan menghentikan kegiatan itu hanya demi musuh bebuyutannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pyongyang mengutus Kim Yo-jong, adik Kim Jong-un, untuk menghadiri pembukaan Olimpiade. Moon menyambutnya dengan jabat tangan bersejarah, sikap ramah dan bersedia menggelar pertemuan bilateral.
"Delegasi dan atletnya semua mendapatkan sorotan, dan adik Kim Jong-un menunjukkan senyum elegan di hadapan publik Korea Selatan dan dunia. Bahkan untuk sesaat, Korut tampak seperti negara normal," ujarnya.
Untuk sesaat, Korut tampak seperti negara normalDavid Maxwell |
Menurut David Maxwell, peneliti di Center for Security Studies di Walsh School for Foreign Service di Georgetown University, juga mengungkapkan pujiannya.
"Cukup hebat, dan jika itu bukan Kim Jong-un dan Korea Utara, Anda akan mengagumi apa yang mereka lakukan, cukup menakjubkan," ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence justru tampak kesepian di upacara tersebut. Dia tetap duduk saat tim gabungan Korut dan Korsel masuk ke stadion, bertolak belakang dengan Moon dan Kim yang berdiri dan bertepuk tangan.
[Gambas:Video CNN]
Selain tebar pesona di Olimpiade, Korut juga memperhitungkan propagandanya di luar acara tersebut.
Gelaran ini hampir bertepatan dengan pendirian angkatan bersenjata dan ulang tahun pendiri negara, Kim Il-sung, yang biasa diperingati dengan parade militer. Tahun lalu, parade itu digelar sangat besar dan membuat dunia khawatir dengan ambisi rudal negara tersebut.
"Saya pikir parade militer ini hanya pertunjukan sampingan, saya pikir mereka memperhitungkan tekad kekuatan Barat dan kesempatan apapun untuk memecah belah warga Korea Selatan patut diambil," kata Joseph Siracusa, profesor keamanan di RMIT University di Melbourne, Australia.
[Gambas:Video CNN]
Korut, kata dia, tidak punya beban di Olimpiade. Satu-satunya tugas negara itu adalah untuk tampil "normal."
"Jika mereka tampil sebagai manusia biasa, mereka tampak normal dan Korea Selatan memperlakukan mereka dengan normal, itu adalah kemenangan diplomatik besar."
(aal)