Pada Rabu (8/3), US Holocaust Memorial Museum mengumumkan telah mencabut Wiesel Award yang mereka berikan kepada Suu Kyi 2012 lalu.
Dalam surat kepada pemimpin de facto Myanmar itu, direktur Museum Sara Bloomfield menegaskan pihaknya "tidak mengambil keputusan ini dengan mudah," tapi terpaksa bertindak menghadapi pengusiran dan pembunuhan massal yang diatribusikan pada pasukan keamanan negara tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih, kata Bloomfield, partai politik Suu Kyi "menolak bekerja sama dengan penyidik Perserikatan Bangsa-Bangsa, mendukung retorika kebencian terhadap Rohingya, dan menolak akses serta menindas wartawan yang berupaya mengungkap cakupan kekerasan di Rakhine State."
Warga Rohingya menjadi korban kebrutalan aparat Myanmar. (Handout via REUTERS) |
Suu Kyi menempuh pendidikan di St Hugh's College di Oxford University. Namun, fotonya di kampus itu pun sudah dicabut.
Dalam penutup suratnya kepada Suu Kyi, Bloomfield menyertakan kutipan dari Wiesel: "Netralitas membantu para opresor, bukan korban. Kebungkaman mendorong para penyiksa, bukan yang tersiksa."
Lebih dari 688 ribu pengungsi Rohingya melarikan diri dari Rakhine sejak Agustus lalu. Militer Myanmar berulang kali menampik klaim yang menyebutnya sengaja menyerang warga sipil.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Kementerian Luar Negeri AS menyebut kekerasan di Myanmar merupakan satu bentuk pembersihan etnis.
[Gambas:Video CNN]
(aal)
Warga Rohingya menjadi korban kebrutalan aparat Myanmar. (Handout via REUTERS)