Pemberontak Sebut Jet Suriah Serang Wilayah De-eskalasi

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Selasa, 13/03/2018 19:41 WIB
Pemberontak Sebut Jet Suriah Serang Wilayah De-eskalasi Ilustrasi serangan udara. (AFP Photo/Aris Messinis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemberontak dan warga setempat menyebut jet tempur pemerintah menyerang wilayah kekuasaan kelompok bersenjata yang dijadikan "zona de-eskalasi" di selatan Suriah, Senin (12/3).

Dua petinggi pemberontak mengatakan kepada Reuters setidaknya delapan serangan menghantam kota Busr al-Harir, Hrak, al-Gharaiya al-Gharbiya dan al-Sowara di daerah pedesaan di timur Deera.

Amerika Serikat dan Rusia sepakat menjadikan daerah itu sebagai zona de-eskalasi pada tahun lalu.


Seorang sumber di pihak pemberontak mengatakan sejumlah sasaran yang dihantam dekat dengan garis depan pertempuran di utara Deraa, tak jauh dari garnisun besar militer Suriah di sekitar Izra, wilayah yang dikuasai pemerintah.
Satu serangan lainnya menghantam pusat pertahanan sipil di wilayah Laja dan daerah permukiman di sejumlah kota, kata seorang warga di Busr al Harir.

Wilayah selatan Suriah adalah satu dari tiga bagian negara di mana pemberontak yang menentang Presiden Bashar al-Assad masih menguasai banyak populasi warga. Dua daerah lainnya ada di bagian utara dekat perbatasan dengan Turki dan timur Ghouta di pinggiran Damaskus.
Timur Ghouta masih terus dibombardir pemerintah meski sudah banyak korban sipil berjatuhan.Timur Ghouta masih terus dibombardir pemerintah meski sudah banyak korban sipil berjatuhan. (AFP PHOTO/Hamza Al-Ajweh)
Dua diplomat senior mengatakan Yordania dan negara-negara Barat khawatir pasukan Suriah yang didukung Rusia akan melakukan serangan besar-besaran di selatan jika berhasil mengambil alih timur Ghouta.

Seorang komandan pemberontak mengatakan serangkaian serangan di selatan tampak seperti peringatan bagi pemberontak yang dinaungi Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Mereka tengah merencanakan serangan besar dalam beberapa hari ke depan untuk membantu rekan-rekannya di Ghouta.
"Semula kami akan memulai operasi, dan kami belum mengumumkan kapan serangan itu akan dilakukan, dan rezim melakukan serangan lebih dulu," kata Abu Nabout, seorang komandan di Liwa Tawheed al-Jnoob, salah satu faksi pemberontak FSA.

Seorang petinggi pemberontak lain mengatakan faksi-faksi FSA sudah mengerahkan pasukan untuk mengantisipasi pertempuran lebih besar.
Pemberontak FSA.Pemberontak FSA. (Reuters/Rami Zayat)
"Saya bisa bilang semua faksi di selatan dalam keadaan siap dan waspada dengan seluruh peralatan dan pasukan tempurnya," kata Khaled al-Faraj, komandan pasukan pemberontak di provinsi Quneitra.

Rusia yang mendukung pemerintah dan Amerika yang mendukung pemberontak untuk menggulingkan Assad diam-diam bertemu di Yordania pada Juni lalu dan mengumumkan gencatan senjata di barat daya Suriah, sebulan setelahnya.
Upaya perdamaian AS pertama di bawah pemerintahan Donald Trump yang terlaksana pada 7 Juli itu diperpanjang pada November lalu wilayah yang berbatasan dengan Israel dan Yordania.

Meski ada sejumlah pelanggaran, gencatan itu membantu mengurangi tensi pertempuran dan bertujuan untuk mencapai de-eskalasi lebih panjang, selangkah menuju penyelesaian konflik secara penuh.

(aal)