Hal itu diutarakan Mattis setelah bertemu dengan Presiden Ashraf Ghani, di Kabul, Selasa (13/3).
"Mungkin tidak semua Taliban akan datang dalam satu kesempatan, itu terlalu jauh. Tapi ada sejumlah elemen Taliban yang jelas-jelas tertarik untuk berdialog dengan pemerintah Afghanistan," kata Mattis di Kabul, Selasa (13/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taliban merupakan kelompok pemberontak yang sudah belasan tahun menjadi ancaman keamanan utama Afghanistan. Sampai saat ini, kelompok tersebut masih menguasai sejumlah wilayah di negara tersebut.
Meski propagandanya lebih diarahkan kepada polisi dan militer, Taliban kerap meluncurkan serangan teror yang turut menewaskan ratusan warga sipil.
Sejauh ini Taliban menganggap tawaran berembuk pemerintahan Ghani hanya tipuan. Kelompok itu juga menyatakan hanya siap bernegosiasi dengan Amerika Serikat, bukan pemerintah Afghanistan.
"Sekarang kami ingin pemerintah Afghanistan memimpin dan mempersiapkan substansi dari upaya rekonsiliasi tersebut," kata Mattis.
Sejumlah elemen Taliban disebut siap berunding. (REUTERS/Jim Hollander) |
Hingga kini ada sekitar 14 ribu pasukan AS di Afghanistan. Sejak Presiden Donald Trump menjabat, AS berupaya meningkatkan jumlah personel itu demi memaksimalkan upaya memberantas Taliban.
"Kemenangan itu seperti apa? Kemenangan adalah ketika sebuah negara dan pasukan keamanannya bisa menegakkan hukum dan bisa melindungi bangsa dari ancaman apa pun," kata Mattis.
"Semua pihak sedang berusaha mencapai sebuah rekonsiliasi politik, bukan kemenangan militer. Kemenangan itu sendiri akan dicapai dari rekonsiliasi politik," ujarnya seperti dikutip AFP.
(aal)
Sejumlah elemen Taliban disebut siap berunding. (REUTERS/Jim Hollander)