Ribuan Warga Sipil Berhasil Keluar dari Ghouta

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 16/03/2018 19:44 WIB
Ribuan Warga Sipil Berhasil Keluar dari Ghouta Ribuan warga Suriah dilaporkan telah meninggalkan Ghouta Timur. (AFP Photo/Abdulmonam Eassa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan warga sipil berhasil keluar dari Ghouta Timur setelah wilayah yang merupakan salah satu benteng terakhir pemberontak itu dibombardir selama sebulan penuh oleh pemerintah Suriah.

Meski dituntut mundur, Presiden Suriah Bashar al-Assad terus memperkuat kekuasaannya di tengah konflik yang memasuki tahun ke delapan.

Pengawas perang menyebut pasukan rezim sekarang menguasai 70 persen wilayah tersebut. Area yang tersisa terbagi menjadi tiga kantong pemberontak yang terus menyusut.


Pada Kamis, lewat serangan udara dan darat yang dahsyat, pasukan Assad berhasil mengambil alih kota Hammuriyeh di selatan Ghouta yang terisolasi.
The Syrian Observatory for Human Rights, sebuah pengawas yang berbasis di Inggris, menyebut para pemberontak melakukan serangan balik dan merebut kembali sebagian dari wilayah tersebut, menewaskan 14 pasukan rezim.

Terlepas dari itu, serangan pemerintah ke Hammuriyeh mendobrak sebuah koridor kota menuju daerah kekuasaan pemerintah.

Hari itu, perempuan dan anak-anak melarikan diri lewat koridor tersebut, di antaranya membawa kantong plastik berisikan pakaian dan mendorong kereta bayi berisi koper dan karpet.

Mereka tiba di pos pemeriksaan rezim distrik Adra, dimana ambulans dan bus hijau besar menunggu untuk membawa mereka ke tempat penampungan sementara.
Observatory menyatakan hampir 20 ribu orang mengungsi dari daerah pemberontak dalam rentang 24 jam sebelum arus berhenti pada Kamis malam. Kejadian ini disebut sebagai "pengungsian terbesar sejak awal serangan terhadap Ghouta."

PBB menyatakan tengah berupaya menentukan jumlah orang yang meninggalkan daerah kantong pemberontak tersebut. Juru bicara PBB mengatakan pihaknya "belum mengamati evakuasi, namun sudah mengunjungi penampungan kolektif tempat beberapa pengungsi tiba."
Ilustrasi warga Ghouta Timur. Ilustrasi warga Ghouta Timur. (AFP Photo/ Abdulmonam Eassa)
Ghouta Timur sudah menjadi benteng utama pemberontak di pinggir kota Damaskus sejak 2012 dan mulai dikepung serangan rezim pada tahun selanjutnya.

Keadaan ini menyebabkan 400 ribu penduduk kesulitan mendapat makanan, sementara rumah sakit lumpuh akibat kekurangan obat dan peralatan.
Hari Kamis, sebuah konvoi pasokan makanan untuk sekitar 26 ribu orang memasuki Douma, kota terbesar di Ghouta.

"Ini hanya sebagian kecil dari yang dibutuhkan keluarga-keluarga disini," kata Komite Internasional Palang Merah (ICRC) yang menyampaikan bantuan tersebut bersama Bulan Sabit Arab Suriah dan PBB.

Presiden ICRC Peter Meurer ikut dalam konvoi, pertama kalinya dia mengikuti operasi semacam itu.

Hujan bom sempat terjadi sementara 25 truk pengirim makanan dan kantong tepung untuk masyarakat yang kelaparan melintasi Douma.

Seorang koresponden AFP mengatakan para pekerja bantuan berlarian mencari perlindungan, namun tidak lama kemudian dapat melanjutkan pengiriman tersebut.

(lit/aal)