Akibat perang veto ini, DK PBB gagal mencapai mufakat untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia yang merenggut nyawa 60 orang di Suriah pada akhir pekan lalu.
Dalam rapat DK PBB pada Selasa (10/4) ini, ada tiga rancangan resolusi yang diajukan, yaitu dua dari Rusia dan satu dari AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusia memveto draf AS, sementara rancangan Moskow tak mendapatkan sembilan suara, ambang terendah agar resolusi bisa diadaptasi.
Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, pun menyayangkan kegagalan ini karena DK tak dapat bergerak melindungi warga Suriah.
"Rusia menghancurkan kredibilitas DK. Sejarah akan merekam itu, pada hari ini, Rusia memilih melindungi monster ketimbang nyawa warga Suriah," ucapnya, sebagaimana dikutip AFP.
"Kami menggunakan veto untuk melindungi hukum internasional, perdamaian, dan keamanan, untuk menjamin kalian tak menyeret Dewan Keamanan ke dalam petualangan kalian," ucap Nebenzia.
Ia kemudian memohon kepada Haley agar AS tak menggunakan tindakan militer untuk menanggapi situasi di Suriah ini.
Hingga kini, Trump belum mengumumkan tanggapan yang dimaksud. Namun saat terjadi serangan senjata kimia tahun lalu, Trump langsung memerintahkan Pentagon meluncurkan 59 rudal balistik Tomahawk untuk menghancurkan Pangkalan Udara Suriah Al Shayrat.
"Saya sekali lagi akan meminta kalian, sekali lagi memohon agar kalian menahan diri dari rencana yang sedang kalian rancang untuk Suriah," kata Nebenzia. (has)