AS-Rusia Saling Jegal Resolusi PBB soal Senjata Kimia Suriah

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 11/04/2018 10:48 WIB
AS-Rusia Saling Jegal Resolusi PBB soal Senjata Kimia Suriah Ilustrasi DK PBB. (Reuters/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat dan Rusia saling menggagalkan rancangan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mereka ajukan untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia di Douma, daerah kekuasaan pemberontak Suriah.

Akibat perang veto ini, DK PBB gagal mencapai mufakat untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia yang merenggut nyawa 60 orang di Suriah pada akhir pekan lalu.

Dalam rapat DK PBB pada Selasa (10/4) ini, ada tiga rancangan resolusi yang diajukan, yaitu dua dari Rusia dan satu dari AS.


Rancangan AS mencakup pembahasan kembali hasil kerja panel sebelumnya, Mekanisme Investigasi Gabungan (JIM), yang tak dilanjutkan kembali karena diveto Rusia pada November lalu.
Sementara itu, draf yang diajukan Rusia mengedepankan undangan bagi lembaga pemantau Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) untuk mengirimkan tim penyelidik ke Suriah, tapi tidak akan mengidentifikasi pelakunya.

Rusia memveto draf AS, sementara rancangan Moskow tak mendapatkan sembilan suara, ambang terendah agar resolusi bisa diadaptasi.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, pun menyayangkan kegagalan ini karena DK tak dapat bergerak melindungi warga Suriah.

"Rusia menghancurkan kredibilitas DK. Sejarah akan merekam itu, pada hari ini, Rusia memilih melindungi monster ketimbang nyawa warga Suriah," ucapnya, sebagaimana dikutip AFP.
Namun, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, justru mengatakan bahwa AS ingin meloloskan draf resolusinya untuk membenarkan tindakan mereka atas Suriah yang dapat menyebabkan konfrontasi.

"Kami menggunakan veto untuk melindungi hukum internasional, perdamaian, dan keamanan, untuk menjamin kalian tak menyeret Dewan Keamanan ke dalam petualangan kalian," ucap Nebenzia.

Ia kemudian memohon kepada Haley agar AS tak menggunakan tindakan militer untuk menanggapi situasi di Suriah ini.
Permohonan ini disampaikan setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS akan menanggapi dengan keras dugaan penggunaan senjata kimia itu dalam waktu dekat.

Hingga kini, Trump belum mengumumkan tanggapan yang dimaksud. Namun saat terjadi serangan senjata kimia tahun lalu, Trump langsung memerintahkan Pentagon meluncurkan 59 rudal balistik Tomahawk untuk menghancurkan Pangkalan Udara Suriah Al Shayrat.

"Saya sekali lagi akan meminta kalian, sekali lagi memohon agar kalian menahan diri dari rencana yang sedang kalian rancang untuk Suriah," kata Nebenzia. (has/has)