Malaysia Otopsi Jenazah Profesor Hamas Diduga Dibunuh Mossad

Natalia Santi, CNN Indonesia | Minggu, 22/04/2018 15:00 WIB
Malaysia Otopsi Jenazah Profesor Hamas Diduga Dibunuh Mossad Otoritas Malaysia melakukan otopsi terhadap seorang profesor Palestina, yang ditembak saat akan salat subuh di sebuah mesjid di Kuala Lumpur, Sabtu (21/4). (REUTERS/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Malaysia melakukan otopsi terhadap seorang profesor Palestina, anggota Gerakan Perlawanan Islam Hamas, yang ditembak saat akan salat subuh di sebuah masjid di Kuala Lumpur, Sabtu (21/4). Fadi Mohammad al-Batsh, 35 tahun, ditembak dua orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor dekat sebuah mesjid di Gombak, Kuala Lumpur, diduga kawanan agen intelijen Israel, Mossad.

Gerakan Perlawanan Islam Hamas menyatakan duka atas wafatnya Al-Batsh, ilmuwan muda Palestina, hafiz Al Quran dan putra Kota Jaballa. "Dia dibunuh pagi ini 21 April 2018 di Kuala Lumpur Malaysia saat menuju masjid untuk salat subuh," kata Hamas dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com, Minggu (22/4).

Hamas menyebut Albatsh sebagai martir, ilmuwan terkemuka yang menyumbangkan beberapa penelitian di berbagai konferensi internasional di bidang tenaga listrik. Dia juga teladan dalam dakwah Islam serta komitmen dalam perjuangan Palestina.


Albatsh pernah menerima penghargaan dari Perdana Menteri Malaysia Najib Razak sebagai peneliti terbaik. Dia telah tinggal di Malaysia selama 10 tahun terakhir dan aktif dalam kegiatan masyarakat sipil.

Di lokasi kejadian, polisi menemukan 14 peluru ditembakkan ke arah korban. Beberapa di antaranya mengenai tembok.

Deputi Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi menyebut bahwa pembunuhan tersebut melibatkan agen intelijen asing.

"Kemungkinan ada kaitan dengan agen rahasia asing," kata Hamidi, sambil menyebut secara khusus bahwa kedua pria yang membunuh Al Batsh berkulit putih seperti dilansir situs berita Israel, Haaretz.

Fadi Mohammad al-BatshFadi Mohammad al-Batsh. (foto: Dok. Istimewa)


Kepala Polisi Kuala Lumpur Mazlan Lazim menyatakan penyelidikan masih berlangsung. "Kami menyelidiki segala sudut. Saya harus menyelidiki dengan sangat hati-hati dan mendalam. Ini masalah internasional," kata Mazlan, Minggu (22/4) seperti dilansir AFP.

Dia menyatakan otopsi sedang dilakukan di rumah sakit dan jenazah akan diserahkan kepada keluarga.

Mohammad Shedad, 17 tahun, seorang mahasiswa dan keluarga korban menuding agen intelijen Israel, Mossad sebagai pelaku pembunuhan.


"Ini jelas kerja Mossad. Fadi adalah orang yang sangat cerdas, siapa saja yang pintar adalah ancaman bagi Israel," kata Shedad seperti dilansir AFP.

Seorang warga Palestina yang tidak mau disebut namanya juga menyatakan Mossad kemungkinan berada di balik pembunuhan Al Batsh. "Ini yang biasa mereka lakukan, membunuh cendekiawan dan ilmuwan Palestina," katanya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (22/4).

"Mereka tidak menghormati hukum internasional, melakukan pembunuhan ekstrayudisial di sana sini," tambahnya.

Al Batsh meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Penyerang diduga menunggu dia sekitar 20 menit di luar masjid di Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum menembakinya.

(nat)