FOTO: Al-Bitran, Kampung Ranjau di Irak Selatan

REUTERS/Essam Al-Sudani, CNN Indonesia | Rabu, 25/04/2018 16:25 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Jurf Al-Milh, sebuah desa di Irak Selatan terkenal sebagai Al-Bitran, kampung amputasi karena banyaknya warga yang terkena ranjau dan bom sisa perang.

Warga Desa Jurf Al-Milh mengumpulkan besi-besi yang ditinggalkan perang untuk dijual, namun risikonya sangat besar.  (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Banyak di antara mereka terkena ranjau dan bom sehingga desa itu dikenal sebagai Bitran, dalam dialek setempat artinya 'orang-orang yang diamputasi'.  Al-Bitran terletak di sebelah timur Kota Basra, dekat aliran sungai Shatt Al-Arab yang menandai perbatasan dengan Iran. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Ratusan warga desa kehilangan anggota tubuh, kaki dan atau tangan, akibat ranjau dan bom-bom yang belum meledak dari Perang Iran-Irak 1980-1988. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Para korban pertama adalah gembala-gembala ternak yang merumput di daerah yang tidak ditandai sebagai ladang ranjau, meskipun wilayah itu penuh dengan bom-bom yang belum meledak. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Sheno Abdullah salah seorang yang kehilangan sebelah kakinya dalam ledakan mengatakan, pada 1980, saat perang dimulai pesawat Iran menjatuhkan bom di kawasan kami saat subuh, hampir semua orang mengungsi, hanya beberapa yang tinggal. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Saat perang berakhir, warga kembali, tapi mereka tidak tahu bahwa tanahnya penuh dengan ranjau. Pada 1991, desa itu, seperti wilayah lain di Irak terpuruk dalam kemiskinan, akibat sanksi internasional yang diberlakukan ke negeri itu menyusul invasi negeri itu ke Kuwait. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Banyak warga desa mengumpulkan logam dan kabel listrik dari peralatan militer yang ditinggalkan di medan tempur. Kegiatan itu menjadi mata pencarian banyak warga. Akibatnya jumlah korban yang terkena ranjau meningkat, terutama di Irak Selatan. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Sebuah bengkel yang membuka usaha sejak 1995 di Basra dengan bantuan Palang Merah Internasional telah membuat anggota tubuh palsu bagi lebih dari 8.000 pasien. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Tiap bulan bengkel itu membuat 50 bagian tubuh palsu. Sepertiga pasien kehilangan kaki karena diabetes, 10 persen akibat kecelakaan. (REUTERS/Essam Al-Sudani)
Sisanya atau sekitar 60 persen para pemesan anggota tubuh palsu adalah korban perang atau kehilangan anggota tubuh terkait perang. Termasuk warga desa Al-Bitran.(REUTERS/Essam Al-Sudani)