Kelompok masyarakat sipil Suaram menyebut panggilan telepon itu juga mengincar para pemimpin LSM. Menurut organisasi itu, tindakan tersebut merupakan "upaya nyata untuk menghalangi pekerjaan pembela hak asasi manusia dan politikus di saat-saat kritis hari pemilu."
Pemilu kali ini disebut-sebut sebagai yang paling berat bagi koalisi Barisan Nasional (BN) pimpinan Perdana Menteri Najib Razak. Pihak petahanan kini mesti dihadapkan dengan kelompok oposisi yang dibentuk pendahulunya sendiri, Mahathir Mohamad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sudah memerintahkan tindakan untuk segera dilaksanakan," kata Najib via Twitter.
[Gambas:Video CNN]
Sejumlah pemimpin oposisi Pakatan Harapan (PH) menyatakan mesti menonaktifkan ponselnya setelah menerima panggilan hampir setiap menit, kebanyakan dari nomor luar negeri. Menurut mereka, serangan telah berlangsung sejak sebelum tempat pemungutan suara dibuka.
"Ini adalah serangan teknologi yang kotor terhadap kami, kami telah dilumpuhkan. Kami tak bisa bicara pada siapa-siapa ... mereka mencoba menyabotase sistem elektoral dengan menggagalkan kemenangan PH," kata Lim Guan Eng, seorang pemimpin oposisi yang dikutip Reuters.
Salah seorang menteri di pemerintahan Najib mengatakan teleponnya juga mendapatkan panggilan dari nomor asal Amerika Serikat, Inggris dan Malaysia, sementara seorang petinggi koalisi penguasa yang lain mengunggah video di Twitter, menunjukkan ponselnya terus berdering.
Reuters melaporkan pada April lalu bahwa sejumlah akun terotomatisasi atau bot membanjiri Twitter dengan puluhan ribu pesan pro-pemerintah dan anti-oposisi.
Sebuah survei yang dipublikasi Merdeka Center menunjukkan suara BN terus melemah, tapi diperkirakan masih akan memenangkan cukup banyak kursi parlemen untuk mempertahankan kekuasaan.
(aal)