"Antara nol atau tidak ada sama sekali," kata Martin Indyk, mantan utusan khusus AS untuk negosiasi Israel-Palestina di pemerintahan Barack Obama, terkait peluang Presiden Donald Trump mendamaikan kedua negara Timur Tengah.
Pasukan Israel menembak mati puluhan demonstran Palestina di perbatasan Gaza pada Senin, saat Kedubes AS secara resmi dipindahkan dari Tel Aviv. Pemimdahan Kedubes ini memenuhi janji kampanye Trump sekaligus membuat marah warga Palestina dan memicu kritik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika dan ketika pemerintahan mendorong rencana perdamaian, kemungkinan besar hal itu lebih dulu mati sebelum ditindaklanjuti," ujarnya sebagaimana dikutip Reuters. "Setidaknya, hal itu harus disertai dorongan untuk pihak Israel agar berhenti menggunakan upaya mematikan terhadap demonstran."
Alih-alih meminta Israel menahan diri, seperti Perancis dan Inggris, AS malah menyalahkan Hamas.
"Hamas secara sengaja dan sinis memicu respons ini," kata juru bicara Gedung Putih Raj Shah. Dia juga mengatakan Amerika tak percaya pembukaan kedubes maupun kekerasan itu akan memengaruhi rencana damainya.
Trump selama ini berpendapat pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota salah satu sekutu terdekat AS membuat "Yerusalem, bagian tersulit dalam negosiasi, tak lagi perlu diperhitungkan" dan secara resmi mengakui kenyataan di lapangan.
Israel menganggap seluruh bagian kota tersebut, termasuk bagian timurnya yang diduduki pada perang 1967, sebagai "ibu kota abadi dan tak terpisahkan."
[Gambas:Video CNN] (aal)