Anwar Ibrahim Dukung Penuh Pemerintahan Mahathir

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 20:00 WIB
Anwar Ibrahim Dukung Penuh Pemerintahan Mahathir Pejuang reformasi Malaysia, Anwar Ibrahim, mendukung penuh pemerintahan Mahathir Mohamad, bekas diktator yang pernah menjebloskannya ke penjara dua dekade lalu. (Reuters/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pejuang reformasi Malaysia, Anwar Ibrahim, memastikan bahwa ia mendukung penuh pemerintahan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, mantan diktator yang pernah menjebloskannya ke penjara dua dekade lalu.

"Saya memberikan jaminan, saya di sini sebagai warga yang peduli, memberikan dukungan penuh untuk mengatur negara dengan pemahaman bahwa kami berkomitmen pada agenda reformasi, mulai dari peradilan, media, dan seluruh aparatur," ujar Anwar.

Ia juga memastikan bahwa Mahathir memiliki hak prerogratif untuk menentukan jajaran kabinet setelah terpilih sebagai perdana menteri melalui pemilu pekan lalu.
Anwar memastikan bahwa Mahathir sudah menekankan akan berkonsultasi dengan koalisi Pakatan Harapan sebelum mengambil keputusan mengenai jajaran kabinet.


Hingga saat ini, Mahathir baru menunjuk istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail, sebagai wakil perdana menteri, juga tiga menteri senior lainnya.

Lebih jauh, Anwar juga yakin Mahathir akan berpegang teguh pada agenda reformasi yang selalu digaungkan koalisi bentukannya tersebut sejak dulu.

"Mahathir berkomitmen terhadap agenda reformasi, yang sebenarnya agenda pemuda bangsa. Selanjutnya, ini juga bukan sistem diktator, bukan kekuasaan satu orang. Keputusan akan diambil oleh tim pemimpin Pakatan Harapan dengan Dr Mahathir sebagai pemimpin awaknya," kata Anwar.
Dalam perjanjian sebelum pemilu, Mahathir sepakat akan memberikan takhtanya kepada Anwar setelah bebas.

Setelah menang pemilu pekan lalu, Mahathir pun langsung meminta pengampunan penuh kepada raja sehingga Anwar bisa bebas dan langsung berpartisipasi dalam politik pada Rabu (16/5).

Namun, jalan Anwar masih panjang karena dia harus mengikuti pemilu sela untuk mendapatkan kursi parlemen, salah satu syarat menjadi perdana menteri.
Anwar pun mengaku belum ingin mengambil bagian dalam kabinet. Ia masih ingin memenuhi janjinya untuk menjadi pembicara di sejumlah universitas, seperti Harvard, Georgetown, dan beberapa negara Muslim.

"Saya sudah mengatakan kepada Tun Mahathir, saya tidak perlu menjabat di kabinet sekarang ini," katanya. (has/has)