Anwar Bebas, Pengamat Khawatir Mahathir Langgar Janji Pemilu

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 18:46 WIB
Anwar Bebas, Pengamat Khawatir Mahathir Langgar Janji Pemilu Sejumlah pengamat khawatir Mahathir Mohamad melanggar janji pemilu untuk menyerahkan takhta kepada Anwar Ibrahim setelah membebaskannya dari penjara. (Lawyers for Liberty/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pengamat khawatir Perdana Menteri Mahathir Mohamad melanggar janji pemilu untuk menyerahkan jabatan kepada Anwar Ibrahim setelah membebaskannya dari penjara pada hari ini, Rabu (16/5).

"Skenario bisa bermacan-macam ya, karena kekuasaan kan menggoda hingga muncul istilah orang gila kekuasaan. Kami khawatir dengan Mahathir apakah dia benar-benar akan menepati janjinya kepada Anwar," ujar penulis buku Pemilu Indonesia: Fakta, Angka, Analisis, dan Studi Banding, Harun Husein, dalam diskusi di Jakarta.
Senada dengan harun, pengamat hubungan internasional sekaligus sistem pemilihan umum, Alfitra Salam, juga ragu Mahathir akan menyerahkan jabatan kepada Anwar jika kinerjanya selama satu sampai dua tahun ke depan berhasil.

"Mungkin Mahahtir sudah punya rencana bahwa dia akan berkuasa hanya 1-2 tahun saja, tapi jika kinerja Mahathir selama waktu tersebut baik dan publik puas, bisa jadi Mahathir berkuasa untuk tiga sampai empat tahun ke depan," ujar Alfitra.


Jika terjadi, hal ini bisa menjadi masalah internal koalisi yang justru bisa mengancam masa depan Pakatan Harapan dalam pemerintahan. Saat itu lah Pakatan Harapan diuji.
"Ini semua tergantung juga pada konsolidasi Pakatan Harapan sendiri karena PH bukan hanya ada partai Mahathir atau Anwar, tapi ada juga DAP, dan AMANAH, dan lainnya," kata Alfitra.

"Kemenangan ini bagi oposisi juga yang pertama kalinya sejak 61 terakhir. Jadi ini ibarat uji coba mereka. Kalau PH berhasil konsolidasi, saya perkirakan Mahathir bisa saja tetap bertahan sampai empat tahun."

Lebih jauh, Harun juga menekankan bahwa jalan Anwar untuk menjadi perdana menteri juga masih jauh.
Meski sudah bebas dari penjara dan mendapat pengampunan Yang Dipertuan Agong Raja Malaysia, pendiri Partai Keadilan Rakyat (PKR) itu masih harus mengikuti pemilihan umum sela demi merebut satu kursi anggota parlemen, syarat menjadi perdana menteri.

"Sehingga menurut saya perjalanan Anwar masih jauh dan itu pun tergantung konsolidasi Pakatan Harapan. Apakah koalisi ini solid, atau tidak. Jika tidak solid ini yang membahayakan," kata Harun.

Menurut Harun, jika koalisi Anwar dan Mahathir pecah, bukan tidak mungkin partai UMNO, bekas partai berkuasa yang kini menjadi oposisi pemerintah, akan bergabung dengan Pakatan Harapan.

"Jadi perjalanan reformasi Malaysia masih panjang. Pemilu Mei kemarin baru awal mula saja," kata Harun. (has)