"Mengenai Singapura, kita akan lihat. [Pertemuan] ini bisa terjadi. Apa pun itu, kita akan tahu pekan depan. Jika terjadi, saya pikir akan menjadi hal yang baik untuk Korea Utara," ujar Trump, sebagaimana dikutip AFP, Rabu (23/5).
Pernyataan ini dilontarkan di tengah ketidakjelasan dari kelanjutan rencana tersebut setelah Korut mengancam membatalkan pertemuan bersejarah itu pada pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah ancaman itu, Trump pun menyatakan keraguan. Ia bahkan menyebut bahwa pertemuan itu kemungkinan bisa batal.
Sejumlah sumber mengatakan kepada AFP bahwa kini beberapa pejabat AS, termasuk wakil kepala staf, Joe Hagin, dan wakil penasihat keamanan nasional, Mira Ricardel, bertolak ke Singapura untuk bertemu pihak Korut.
Isu ini pun menjadi perhatian dalam rapat antara Komite Hubungan Luar Negeri Dewan Perwakilan AS dengan Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo.
Rencana pertemuan ini memang mulai mencuat setelah Kim memberikan undangan kepada Trump yang disampaikan melalui delegasi Korsel.
Wacana mengenai pertemuan ini semakin jelas setelah Kim menggelar konferensi bersejarah dengan Presiden Korsel, Moon Jae-in, pada akhir April lalu.
Sejak saat itu, Trump memberikan kepastian bahwa pertemuan akan digelar di Singapura. Korut pun menunjukkan niat denuklirisasi dengan mengundang pers menghadiri momen penghancuran situs nuklir mereka.
Analis dari Institut Asan untuk Studi Kebijakan, Go Myung-hyun, mengatakan bahwa kedua pemimpin negara melakukan "permainan ayam" agar dapat mencapai titik tertinggi dalam negosiasi.
Menurut Go, Pyongyang akan memenangkan simpati internasional karena penghancuran situs nuklir tersebut jika pertemuan batal.
"Korea Utara bisa mengatakan kepada masyarakat internasional bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik untuk mencapai denuklirisasi melalui negosiasi, tapi ditekan oleh AS sehingga tak bisa melakukannya," kata Go. (has)