Calon Menteri Ekonomi Ditolak, PM Terpilih Italia Mundur

Natalia Santi, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 11:10 WIB
Calon Menteri Ekonomi Ditolak, PM Terpilih Italia Mundur Presiden Italia Sergio Mattarell (kanan) menunjuk perdana menteri non-politik setelah PM terpilih Italia Giuseppe Conte mundur karena calon menteri ekonominya ditolak. ( Reuters/Tiziana Fabi/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Italia Sergio Mattarella menyatakan akan menunjuk perdana menteri non-politik setelah PM terpilih Italia Giuseppe Conte mundur karena calon menteri ekonomi pilihannya ditolak.

Mattarella memberi mandat untuk membentuk pemerintahan kepada Conte, Rabu pekan lalu. Conte, profesor hukum dan orang baru dalam politik, ditunjuk menjadi perdana menteri dan memimpin pemerintahan koalisi oleh dua partai populis pemenang pemilu 4 Maret lalu, Liga dan Gerakan Bintang Lima.

Namun, Mattarella menyatakan dia menolak menteri keuangan yang dipilih Conte, Paolo Savona. Dilansir CNN, Mattarella menyatakan Savona bisa membawa konsekuensi berbahaya bagi pemerintahan Italia.



Dalam pidato yang ditayangkan langsung televisi, Mattarella menyatakan dia tidak dapat menyetujui seorang menteri keuangan yang 'mungkin atau hampir pasti membawa Italia keluar dari Zona Euro."

Presiden dapat membentuk pemerintahan sementara untuk menggelar pemilihan lagi. Dia juga belum menyebut nama perdana menteri teknokrat yang dimaksud. Namun, media menyatakan dia akan bertemu dengan mantan direktur fiskal di Dana Moneter Internasional, Carlo Cottarelli.

Mattarella juga menyatakan Italia akan menggelar pemilihan umum kembali. "Tidak seorang pun yang boleh menyatakan bahwa saya menghambat perubahan pemerintahan. Saya perlu hati-hati dalam menyelamatkan rakyat Italia," kata Mattarella seperti dilansir CNN.

Conte muncul sebagai unggulan setelah pemimpin Gerakan Bintang Lima Luigi Di Maio dan Ketua Liga Matteo Salvini bertemu secara terpisah dengan Mattarella di Istana Quirinal, Italia.


Negosiasi telah berlangsung sejak Gerakan Bintang Lima (M5S) yang anti-kemapanan memenangkan suara terbanyak, diikuti partai sayap kanan Liga utara.

Di Maio dan Salvini mengikatkan diri dalam koalisi setelah aliansi dengan partai utama tidak berhasil.

Koalisi populis menjanjikan pemotongan pajak radikal, tunjangan kesejahteraan yang murah hati, menggulirkan kembali reformasi pensiun, menindak keras imigrasi dan menolak perjanjian fiskal Uni Eropa (UE).

"Kita tidak akan lagi menjadi pelayan siapapun. Italia bukan koloni. Kami bukan budak Jerman atau Perancis dari sebaran keuangan," kata Salvini menanggapi pengunduran diri Conte.


"Hari ini kita dijegal untuk membentuk pemerintahan," kata Di Maio kepada pendukungnya. Diamenyebut sikap Mattarella tidak dipahami dan menuduh lembaga ration dan perbankan melobi Presiden Italia demi kepentingan mereka.

Dilansir CNN, pemerintahan populis di Roma diperkirakan bakal mempersulit para pemimpin Uni Eropa seperti Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk mendorong integrasi ekonomi dan politik Eropa. (nat)