Perubahan mendadak Kim menjadi seorang negarawan di puncak ketegangan kawasan jauh berbeda dari kebiasaan Korea Utara yang sudah berlangsung selama beberapa dekade, kata para analis. Namun, spontanitas Trump membuatnya mempunyai dampak baru di bidang diplomasi.
Setelah setahun melakukan serangkaian peluncuran peluru kendali yang bisa mencapai daratan utama AS, ditambah uji coba nuklir terbesar Korut sepanjang masa, Kim mendeklarasikan petualangannya membangun senjata nuklir telah terpenuhi dan mulai menawarkan negosiasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sudah direncanakan," kata Kim Hyun-wook, profesor di Korea National Diplomatic Academy, dikutip AFP pada Rabu (6/6).
Kim Jong-un (kanan) berkunjung ke China untuk memperbaiki hubungan dengan Presiden Xi Jinping (kiri). (KCNA/via REUTERS) |
Dalam pertemuan dengan pemimpin Korea Selatan dan China, termasuk dalam acara jalan santai di tepi pantai dan jamuan teh luar ruangan, Kim tampak sopan dan ramah, kontras dengan citra meledak-ledak yang sebelumnya ditunjukkan Pyongyang.
"Kim tak hanya andal menghadapi tekanan maksimum, dia juga cukup andal soal hubungan maksimum," kata Jung Pak, mantan pakar Korea Utara di Badan Intelijen Pusat (CIA) yang kini jadi peneliti di Brookings Institution.
Dia terbukti "cukup ahli memainkan pemain kawasan satu sama lain" dan "memandang Beijing sebagai pengimbang (dan kemungkinan penjamin) dalam menghadapi Amerika Serikat."
Pengaruh diplomatik
Semua itu jadi transisi mengejutkan untuk seorang pemimpin yang menghabiskan enam tahun secara terisolasi, tak pernah meninggalkan negara maupun bertemu kepala negara lain sejak menjabat 2011 lalu.
Kini, diplomasi Kim terus dipacu, saling bertukar utusan dengan Washington dan menggelar pertemuan berulang dengan China dan Korea Selatan.
Pendekatannya kepada Beijing adalah "contoh klasik diplomasi berimbang," kata Koo Kab-woo, profesor di University of North Korean Studies di Seoul.
"Dia pergi ke Washington melalui Beijing dan Seoul," kata Koo. "Itu adalah acara paling efektif bagi sebuah negara kecil untuk meningkatkan pengaruh diplomatik."
[Gambas:Video CNN]
Namun, presiden Amerika Serikat adalah orang yang tanpa disadari memberikan panggung bagi Kim untuk menunjukkan kemampuan diplomatiknya.
Pertemuan tingkat tinggi Singapura adalah hasil dari spontanitas Trump, setelah dia menerima undangan dialog dari Kim--disampaikan pejabat Korea Selatan--tanpa berkonsultasi dengan para penasihatnya.
Dalam hitungan hari, Trump kembali memulai kembali persiapan pertemuan yang ia batalkan.
"Itu tak mungkin terjadi tanpa kombinasi Moon Jae-in, Donald Trump dan Kim Jong-un," kata Koo. "Kim bertemu dengan perpaduan yang optimal."
Saat Kim dan Trump berebut pengaruh, para analis mengatakan diplomasi Korut yang diatur dengan sangat berhati-hati akan jadi jaminan menghadapi kemungkinan tekanan AS seandainya pertemuan pekan depan tak berjalan mulus.
Terlepas semua itu, jika pertemuan Singapura gagal, Kim kemungkinan besar akan melanjutkan serangan tebar pesonanya alih-alih segera kembali melakukan uji coba rudal dan nuklir, kata Go Myong-hyun, analis di Asan Institute of Policy Studies.
"Dan jika itu terjadi, Korea Selatan dan China akan bisa melanjutkan bantuannya terhadap Korea Utara secara diplomatik."
(aal)
Kim Jong-un (kanan) berkunjung ke China untuk memperbaiki hubungan dengan Presiden Xi Jinping (kiri). (KCNA/via REUTERS)