Gubernur Bank Sentral Malaysia Mundur di Tengah Skandal 1MDB

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 06/06/2018 17:31 WIB
Gubernur Bank Sentral Malaysia Mundur di Tengah Skandal 1MDB Di tengah isu skandal korupsi 1MDB, Gubernur Bank Sentral Malaysia, Muhammad Ibrahim, mengajukan pengunduran diri pada Rabu (6/6). (AFP Photo/Manan Vatsayana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah isu skandal korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB), Gubernur Bank Sentral Malaysia, Muhammad Ibrahim, mengajukan pengunduran diri pada Rabu (6/6).

Surat pengunduran diri itu sudah diterima oleh Mahathir, tapi ia belum menentukan pengganti Muhammad karena masih harus mendapatkan restu dari Raja Yang Dipertuan Agong, Muhammad V.

"Kami belum menentukan penggantinya karena kami harus mendapat persetujuan dari Agong sebelum kami dapat mengumumkannya," ujar Mahathir sebagaimana dikutip Reuters.
Dengan pengunduran diri ini, Muhammad mengakhiri kariernya di bank sentral yang sudah ia geluti sejak puluhan tahun lalu.


Lulusan Harvard University ini pertama kali bergabung dalam bank negara pada 1984. Ia kemudian menjadi wakil gubernur bank tahun 2010 dan dilantik sebagai gubernur pada Mei 2016 untuk menggantikan Zeti Akhtar Aziz yang sudah pensiun.

Pengunduran diri diajukan setelah Menteri Keuangan Malaysia, Lim Guan Eng, mengungkap ada aliran uang 2 miliar ringgit dari hasil penjualan lahan negara oleh pemerintah ke bank sentral. Uang itu kemudian digunakan untuk membayar utang 1MDB.
Sebelumnya, Muhammad menekankan bahwa pembelian lahan itu sesuai dengan permintaan pemerintah.

1MDB adalah yayasan investasi negara yang dibuat mantan perdana menteri Najib Razak saat masih berkuasa pada 2009 lalu. 

Lembaga tersebut menjadi sorotan setelah dilaporkan menyalahgunakan dana investasi sebesar US$4,5 miliar.
Dugaan ini pertama kali mencuat pada 2015 lalu, ketika Wall Street Journal melaporkan ada aliran dana sebesar US$681 juta dari 1MDB masuk ke rekening pribadi Najib.

Saat menjabat, Najib terus membantah tuduhan ini dengan mengatakan bahwa uang tersebut merupakan sumbangan dari anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi.

Setelah Najib digulingkan oleh Perdana Menteri Mahathir Mohamad dalam pemilu bersejarah 9 Mei lalu, pemerintah Malaysia langsung melakukan penyelidikan besar-besaran. (has/has)