Laporan yang dipublikasikan oleh sebuah panel independen pada Rabu (20/6) menyimpulkan bahwa seorang dokter di Gosport War Memorial Hospital bertanggung jawab atas kebijakan memberi penawar rasa sakit dengan dosis kuat pada pasien lanjut usia hingga menewaskan ratusan orang.
"Ada pengabaian jiwa manusia dan budaya memperpendek nyawa banyak pasien," bunyi laporan itu, menambahkan bahwa kebijakan rumah sakit itu dilakukan "tanpa pembenaran medis."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan panel independen menduga Jane Barton, dokter sekaligus asisten klinik yang mengunjungi bangsal setiap hari, adalah orang yang bertanggung jawab atas kebijakan ini. Selama 11 tahun, dari 1989 hingga 2000, setidaknya 456 orang meninggal dunia setelah diberi diamorphine, heroin sintetis, sebagai penawar rasa sakit.
Selai itu, sekitar 200 pasien juga diduga meninggal lebih dini karena obat-obatan yang diberikan perawat di bangsal, di bawah arahan Barton.
Barton dinyatakan bersalah atas "kesalahan profesional serius" dan dikecam atas kegagalan merawat 12 pasien antara 1996 hingga 1999. Namun, dia tak pernah didakwa, berkeras dirinya selalu memprioritaskan kepentingan pasiennya.
"Sepanjang karir saya, saya selalu mencoba yang terbaik untuk seluruh pasien dan hanya memenuhi kepentingan dan kesehatan mereka sepenuh hati," ujarnya dalam pernyataan 2010 silam. Dia pensiun tak lama setelahnya.
Namun, dia menyatakan tak akan menyerah hingga pemerintah mengakui perannya dalam tragedi ini.
"Saya adalah suaranya sekarang, dan saya tak akan berhenti, hingga seseorang di pemerintahan, di Departemen Kesehatan, bisa menenangkan saya dan berkata, 'ini alasan kami memberi ibu Anda obat tersebut'."
Pada Rabu, Menteri Kesehatan Inggris Jeremy Hunt meminta maaf "atas nama pemerintah dan NHS (Badan Kesehatan Nasional)" atas kematian yang terjadi.
(aal)