Incar Peluang, 20 Pebisnis Singapura Siap Bertolak ke Korut

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 22/06/2018 14:45 WIB
Incar Peluang, 20 Pebisnis Singapura Siap Bertolak ke Korut Ilustrasi Singapura. Pebisnis dari negara tersebut dikabarkan akan bertolak ke Korea Utara. (tpsdave/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sedikitnya 20 pengusaha asal Singapura dikabarkan akan berkunjung ke Korea Utara untuk menilik peluang bisnis di negara terisolasi itu, September ini.

Michael Heng, seorang konsultan bisnis di Singapura, mengaku telah diundang untuk mengunjungi Korut pada 13 Juni lalu, sehari setelah pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Kim Jong-un di Pulau Sentosa.

Sejak pertemuan itu, Korut terus menunjukkan keterbukaan. Kim Jong-un juga menekankan prioritasnya untuk membangun perekonomian dan industri saat berkunjung ke Beijing untuk kedua kalinya beberapa hari lalu.


"Kami harus mulai bersiap sekarang, bergegas memanfaatkan saat pintu [peluang] terbuka," kata Heng kepada Reuters, Jumat (22/6).
Heng mengatakan dirinya telah mendiskusikan beberapa hal bersama seorang pejabat tinggi Korut terkait peluang bisnis ini. Pembicaraan itu bahkan telah dilakukan dua bulan sebelum pertemuan Kim-Trump.

Berdasarkan pembicaraan itu, Heng berencana mengajak 18 pebisnis Singapura ke Pyongyang. Di sana, para pengusaha akan berdiksusi dengan pejabat Korut dan beberapa pebisnis asing lain.

Dia mengatakan kunjungan pengusaha ini berfokus untuk melihat beberapa industri di Korut seperti ritel makanan, tekstil, dan teknologi informasi serta komunikasi.

Heng tidak merinci kapan lawatan bisnis ini akan berlangsung.
"Kami harus menjadi yang pertama memanfaatkan keuntungan dan kesempatan sebelum tempat itu dikuasai oleh China dan Korea Selatan," ujarnya.

Tak hanya memiliki hubungan diplomatik, selama ini Singapura juga jadi mitra dagang terbesar ketujuh Korut.

Menjadi rumah bagi beberapa bisnis Korut, Singapura kini tengah diselidiki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Jumlah transaksi ekonomi dan dagang kedua negara pun menurun menyusul sanksi PBB atas program nuklir Pyongyang. Singapura juga membatalkan izin kerja bagi warga Korut.
Meski Korut telah menunjukan itikad baik termasuk mulai menyetop pengembangan senjata rudalnya, PBB dan sejumlah negara seperti AS tetap akan menerapkan sanksi ekonomi bagi negara itu.

Heng juga memastikan bahwa tidak ada perjanjian bisnis yang akan disepakati dalam lawatan nanti jika sanksi masih berlaku.

"Masalahnya adalah kapan sanksi akan dicabut, bukan jika. Kalau kita memberi mereka [Korut] kesempatan, Korut pasti akan terbuka kepada dunia," kata Heng.

(aal)