Juru bicara Kementerian Luar Negeri Singapura melaporkan bahwa sebagian besar dana tersebut digunakan untuk keamanan.
AFP melaporkan bahwa Singapura memang menggencarkan operasi keamanan besar-besaran selama pertemuan bersejarah itu berlangsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Singapura juga dilaporkan membantu biaya penginapan delegasi Pyongyang, termasuk Kim yang bermalam di St Regis, di tengah keterpurukan perekonomian Korut akibat sanksi internasional.
Namun, dana yang dikeluarkan Singapura lebih kecil dari perkiraan Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Sebelumnya, sang PM diprotes karena memperkirakan dana bantuan itu mencapai senilai Rp207, 6 miliar.
Singapura terpilih menjadi lokasi pertemuan karena disebut memiliki hubungan baik dengan AS maupun Korut sehingga dianggap netral.
Negara pusat keuangan di Asia Tenggara itu pun dianggap memiliki reputasi keteraturan yang ketat dan memiliki cukup pengalaman menggelar pertemuan-pertemuan besar lain.
Panduvan Kader Hussain (36), warga Singapura yang kini berprofesi sebagai supir taksi online, mengatakan dia tak begitu senang dengan perhelatan KTT di negaranya.
Mantan pegawai bank swasta itu menganggap Singapura bisa memanfaatkan jutaan dolar tersebut untuk membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
"Saya pikir lebih bijak bagi pemerintah untuk menghabiskan jutaan dolar itu dengan membuka lapangan pekerjaan baru dan mungkin menurunkan pajak. KTT ini walau bagaimanapun hanya menguntungkan sejumlah pihak," kata Hussain kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Apalagi sebelum ada pernyataan resmi pemerintah, Singapura disebut harus mengeluarkan dana hingga US$14,7 juta untuk menggelar pertemuan tersebut.
Sebab, selain pengamanan, pemerintah juga harus membayar sejumlah besar fasilitas untuk sedikitnya 2.500 jurnalis asing yang meliput pertemuan tersebut.
Namun, sejumlah pengamat menganggap bahwa KTT AS-Korut pada akhirnya mampu menguntungkan Singapura, terutama dari sektor wisata dan bisnis.
(has/aal)