"Bertahun-tahun menjadi kepala pemerintahan, kami diberikan banyak barang oleh pemimpin asing, juga teman pribadi, dan saya tahu bahwa menurut hukum tidak ilegal menerima hadiah. Hadiah ini berakumulasi selama bertahun-tahun," ujar Najib.
Najib kemudian mengambil contoh nilai sejumlah perhiasan yang diberikan 20 tahun lalu tentu kini harganya sudah naik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Departemen Penyelidikan Kejahatan Komersial Malaysia (CCID), Amar Singh, mengatakan proses dari penggeledahan hingga pengumuman ke publik memakan waktu begitu lama karena jumlah barang terlalu banyak dan aparat ingin memastikan nilainya.
"Pengamat dan pakar hanya bisa memperkirakan harga mentah. Perkiraan itu tak termasuk biaya pengerjaan dan tambahan lainnya," ujar Singh pada Rabu.
Total perhiasan yang disita berjumlah 12 ribu buah, terdiri dari 1.400 kalung, 2.200 cincin, 2.800 pasang anting, 2.100 gelang, 1.600 bros, 14 tiara, dan satu kalung emas senilai 6,4 juta ringgit atau setara Rp22,5 miliar.
Singh pun mengatakan bahwa kepolisian akan melakukan verifikasi atas sejumlah barang untuk mengetahui barang itu pemberian atau bukan. Jika hadiah, pihak mana yang memberikan.
"Ini adalah penyitaan paling besar dalam sejarah Malaysia. Kami mungkin akan memanggil Najib dan (istrinya) Rosmah (Mansor) secepatnya," katanya.
Lembaga tersebut menjadi sorotan setelah dilaporkan menyalahgunakan dana investasi sebesar US$4,5 miliar.
Dugaan ini pertama kali mencuat tahun 2015 lalu, ketika Wall Street Journal melaporkan ada aliran dana sebesar US$681 juta dari 1MDB masuk ke rekening pribadi Najib.
Saat menjabat, Najib terus membantah tudingan ini dengan mengatakan bahwa uang tersebut merupakan sumbangan dari anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi. (has)