Temui Putin, Trump Dikritik Rekan-rekannya di Partai Republik

Resty Armenia, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 05:41 WIB
Temui Putin, Trump Dikritik Rekan-rekannya di Partai Republik Presiden AS Donald Trump dikritik rekan-rekannya di Partai Republik, menyusul konferensi pers yang digelar usai bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. (REUTERS/Grigory Dukor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden AS Donald Trump dihujani kritik keras dari rekan-rekannya sendiri di Partai Republik, menyusul konferensi pers yang digelar usai bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia pada Senin (16/7).

Saat memberikan pernyataan di hadapan media, Trump gagal mendukung penilaian komunitas intelijen AS bahwa Rusia ikut campur dalam pilpres AS yang digelar 2016 lalu. Ia justru mengamini bantahan Putin terkait tuduhan tersebut.

Menyusul hal ini, para senator yang juga berasal dari Partai Republik, yang biasanya mendukung Trump, ramai-ramai mengecam sang presiden, termasuk Ketua DPR AS Paul Ryan dan senator Liz Cheney dan Trey Gowdy.


"Tak ada keraguan bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan kita dan terus berupaya untuk merusak demokrasi di sini dan di seluruh dunia," ujar Ryan, seorang senator dari Partai Republik dari Wisconsin, dalam sebuah pernyataan, melansir CNN.

"Itu bukan hanya temuan komunitas intelijen AS, tetapi juga komite intelijen legislatif [House Permanent Select Committee on Intelligence/HPSCI]," imbuhnya.

Ryan melanjutkan, "Presiden harus menghargai bahwa Rusia bukan sekutu kita. Tidak ada kesetaraan moral antara AS dan Rusia, yang tetap memusuhi nilai-nilai dan cita-cita paling mendasar kita. AS harus fokus dalam meminta pertanggungjawaban Rusia dan mengakhiri serangan keji terhadap demokrasi."

Sementara, senator Mitch McConnell berbicara singkat dengan media mengenai dukungannya terhadap komunitas intelijen AS.

"Saya sudah mengatakan beberapa kali dan saya akan mengatakanya lagi, Rusia bukanlah teman kita dan saya sepenuhnya percaya penilai komunitas intelijen kita," ujar senator Partai Republik asal Kentucky itu.

Trey Gowdy, senator Partai Republik yang mewakili South Carolina, menegaskan bahwa dia sama sekali tidak melihat Rusia sebagai sekutu AS.

"Saya yakin mantan direktur CIA dan Menteri Luar Negeri saat ini Mike Pompeo, DNI Dan Coats, Duta Besar Nikki Haley, Direktur FBI Chris Wray, Jaksa Agung Jeff Sessions dan yang lain akan dapat berkomunikasi dengan Presiden, adalah mungkin untuk menyimpulkan Rusia ikut campur dalam pemilu kita pada 2016 tanpa mendelegitimasi keberhasilan elektoralnya," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Senator Partai Republik asal Wyoming, Liz Cheney, mencuitkan komentarnya terhadap isu tersebut.

"Sebagai seorang anggota dari komite layanan bersenjata DPR AS, saya sangat terganggu oleh pembelaan Presiden Trump terhadap Putin melawan badan-badan intelijen AS dan sarannya tentang kesetaraan moral antara AS dan Rusia. Rusia merupakan ancaman besar bagi keamanan nasional kita," kicau Cheney.



Orrin Hatch, senator Partai Republik dari Utah yang merupakan sekutu kunci Trump, mengeluarkan pernyataan yang mendukung komunitas intelijen AS.

"Rusia ikut campur dalam pemilu 2016," ujar Hatch dalam sebuah pernyataan.

"Agensi-agensi utama negara kita semua setuju dengan poin itu. Dari Presiden ke bawah, kita harus melakukan segalanya dengan kekuatan kita untuk melindungi demokrasi kita dengan mengamankan pemilu masa depan dari pengaruh asing dan gangguan, terlepas dari apa yang dikatakan oleh Vladimir Putin atau operasi Rusia lainnya," katanya.

Hatch menegaskan, "Saya percaya kerja bagus dari personel intelijen dan penegak hukum kita yang telah bersumpah untuk melindungi AS dari musuh-musuh asing dan domestik." (res)