Jika sanksi itu berlaku, sebagai salah satu sekutu terdekat Korut, China dan Rusia harus menyetop segala pasokan minyak dan bahan bakar lainnya ke Korut.
Sementara itu, Negeri Tirai Bambu menjadi salah satu pemasok energi terbesar bagi Korut. Rusia juga merupakan salah satu negara yang cukup banyak bertransaksi energi dengan negara terisolasi itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekan lalu, AS meminta komite sanksi PBB menghentikan pengiriman bahan bakar lebih lanjut ke Korut setelah menuding Pyongyang melakukan impor ilegal dan melampaui aturan batas pengiriman minyak yang diizinkan.
Dalam laporannya kepada komite sanksi, AS menuding Korut telah menerima setidaknya 759 ribu barel produk minyak melalui pengiriman kapal laut. Tanker Korut dilaporkan memperoleh minyak secara diam-diam dari kapal-kapal kargo yang mematikan sistem satelit mereka supaya tidak terlacak di perairan internasional.
Resolusi sanksi PBB yang diadposi tahun lalu menetapkan bahwa Korut hanya boleh mengimpor minyak sebanyak 4 juta barel per tahun dan 500 ribu barel bagi produk olahan minyak.
"Rusia tengah memeriksa permintaan ini dan tengah mencari informasi tambahan pada setiap kasus transaksi minyak 'ilegal' kepada Korut yang diklaim AS," bunyi surat elektronik perwakilan Rusia di PBB kepada komite sanksi DK PBB.
"China juga meminta pihak AS untuk memberikan informasi faktual tambahan demi memfasilitasi semua negara untuk mempelajari kasus lebih lanjut dan memutuskan penilaiannya," ucap perwakilan China di PBB melalui pernyataan.
Permintaan China dan Rusia disampaikan menjelang pertemuan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dengan DK PBB di New York, hari ini. Pertemuan dilakukan guna membahas upaya Washington membujuk Korut supaya menyetop program rudal dan nuklirnya.
Para diplomat memperkirakan Pompeo akan mendesak penerapan sanksi PBB yang lebih keras lagi terhadap Korut dalam rapat hari ini.
(aal)