Lebih dari satu dekade setelah era kekuasaan militer, pemilu Rabu (25/7) diwarnai persaingan narasi demokrasi. Sementara itu, Sharif yang digulingkan dan dipenjara karena korupsi menuding elemen angkatan bersenjata berupaya untuk membantu Khan memenangi pemilihan, meski ia terus menampik.
Lihat juga:Melihat Para Pesaing di Pemilu Pakistan |
Para pendukung Sharif, yang partainya kini dipimpin oleh Shahbaz, sang adik, berpendapat kejatuhannya bermotif politik dan disusun oleh pihak militer. Hal itu juga disebut jadi pukulan telak bagi "kesucian pemilu" sebelumnya yang memberikan mayoritas suara untuk Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PML-N).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei nasional terbaru menunjukkan persaingan ketat. Salah satunya, partai Khan mendapatkan keunggulan 30-27 persen lawan PML-N, sementara pada yang lain partai Sharif unggul 26-25 persen dari Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) yang mengusung Khan.
Walau demikian, Khan khawatir jika mesti membentuk pemerintahan bersama partai mapan.
"Jika kita mesti membentuk koalisi dengan salah satu dari dua partai utama, maka kita tidak akan bisa melakukan reformasi besar," kata Khan.
"Jadi saya tak yakin apakah sepadan untuk membentuk pemerintahan jika kita mesti beraliansi dengan satu dari dua partai itu."
Pihak militer, yang berkuasa selama separuh dari 71 tahun sejarah Pakistan, menampik tudingan ikut campur dalam pemilu.
(aal)