Grup penebar ketakutan asal Timur Tengah menyebut tindakan itu sebagai "operasi martir." Demikian dinyatakan lewat kantor berita propaganda, Amaq, sebagaimana dikutip Reuters pada Rabu (1/8).
Seorang pelaku, satu tentara, lima pasukan paramiliter dan empat warga sipil, termasuk seorang ibu dan anaknya, tewas akibat aksi itu. Tujuh lainnya terluka, kata seorang juru bicara militer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang tentara yang menyaksikan serangan itu mengatakan pengemudi mobil maut berbicara dengan dialek asing dan mungkin berasal dari luar negeri.
Kementerian Luar Negeri RI belum bisa mengonfirmasi dugaan keterlibatan WNI dalam serangan tersebut dan menyatakan masih menunggu informasi resmi dari pihak berwenang Filipina.
Di sisi lain, juru bicara militer Kolonel Edgar Arevalo menyatakan pihaknya masih menyelidiki dan belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa insiden itu merupakan serangan bunuh diri maupun dilakukan oleh orang asing.
Sementara, Kelompok Intelijen SiTE melaporkan ISIS mengidentifikasi pelaku sebagai warga Maroko, membuat dugaan keterlibatan WNI dalam serangan ini semakin dipertanyakan.
(aal)