Kementerian Luar Negeri Iran menganggap tawaran itu bertolak belakang dengan sikap Trump yang ingin memperkuat sanksi dan menekan negara-negara lain untuk memutus hubungan bisnis dengan Teheran.
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan semua ketegangan terjadi karena AS menarik diri dari perjanjian nuklir yang selama ini menjadi wadah berdialog kedua negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tuan Trump! Iran bukan Korea Utara yang menerima tawaran Anda untuk bertemu," ucap Jafar dikutip kantor berita Fars.
"Bahkan Presiden AS penerus Anda tidak akan melihat peluang untuk bertemu," paparnya.
Dewan Strategis untuk Hubungan Luar Negeri Iran menganggap tawaran Trump untuk bertemu tidak memiliki nilai atau manfaat bagi Iran.
"Berdasarkan pengalaman buruk kami selama bernegosiasi dengan AS dan kebiasaan pejabat AS melanggar komitmen mereka, hal yang lumrah jika kami melihat tawaran Trump itu tidak berharga," ujar Kepala institusi tersebut, Kamal Kharrazi.
Washington berupaya memaksa Teheran mengakhiri program nuklir dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah, di mana Iran terlibat dalam perang proksi mulai dari Yaman hingga Suriah.
Langkah Trump tersebut membuat kelompok garis keras semakin mendesak Presiden Hassan Rouhani untuk turut keluar dari perjanjian itu.
Meski bersedia bertemu Rouhani, Gedung Putih mengklarifikasi tawaran itu tidak mengubah niat pemerintah untuk menjatuhkan sanksi dan retorika terhadap Teheran, dengan tujuan "mencari perubahan pada sikap pemerintahan Iran."
(aal)