Dampak Psikologis Gempa Lombok Memunculkan 'Desa-desa Hantu'

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 09/08/2018 14:09 WIB
Dampak Psikologis Gempa Lombok Memunculkan 'Desa-desa Hantu' Sembilan puluh lima persen rumah warga hancur akibat gempa NTB di Desa Wadon, Lombok Barat. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasca gempa bumi berkekuatan 7 mengguncang pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat pada akhir pekan ini, lebih dari 130 gempa susulan menyebabkan beberapa desa berubah menjadi 'kota hantu'.

Dilansir situs resmi Perserikatan Bangsa-bangsa, un.org, juru bicara Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) Matthew Cochrane, mengatakan bahwa "sekitar 80 persen dari bangunan telah rusak atau roboh," menimbulkan kerusakan parah yang dialami di Lombok Utara, dengan jumlah penduduk sebanyak 200.000 orang sejak gempa pertama mengguncang pada 29 Juli.

"Penyaluran bantuan dasar dan pembangunan tempat pengungsian menjadi kebutuhan utama ribuan orang yang terpaksa mengungsi," kata dia menambahkan bahwa tim IFRC tidak dapat mencapai desa-desa terpencil. "Kami belum bisa perkirakan seberapa besar dampak kerusakan."


Akibat gempa ini, aliran listrik terputus di beberapa wilayah dan sebagian komunikasi mati. Tim penyelamat masih berjuang menembus ke daerah-daerah terpencil.

Melihat dampak psikologis yang timbul akibat bencana, menurut Cochrane, tim melaporkan sejumlah 'desa dan kota hantu' akibat ditinggalkan warganya.



"Para warga telah berbondong-bondong meninggalkan rumahnya. Mereka takut untuk tinggal di rumah dengan adanya gempa susulan dan prediksi tsunami," kata Cochrane.

"Ada lebih dari 130 gempa susulan yang terjadi selama 24 jam terakhir ini," dan memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah.

Cochrane menjelaskan bahwa setelah terjadinya gempa bumi, korban-korban mengalami rasa trauma, berusaha keras untuk membedakan antara terjadinya guncangan dari gempa susulan atau kembalinya gempa bumi besar.

"Dukungan psikologis pascabencana sangat diperlukan selain bantuan fisik seperti tempat pengungsian dan bantuan dasar, untuk mengurangi tingkat trauma terhadap masyarakat yang terdampak bencana, khususnya untuk komunitas terpencil," ujarnya.

Ia menekankan bahwa rekan kerjanya dari Palang Merah Indonesia beroperasi secara cepat tanggap sejak awal.

"Sekitar 110 staf dan relawan dari cabang Lombok memberikan bantuan yang cepat bagi korban detik-detik pertama setelah gempa. Mereka telah melakukan pencarian, evakuasi dan penyelamatan pada korban-korban tersebut, membawa korban terluka ke rumah sakit, menyediakan pertolongan pertama untuk warga dan banyak wisatawan asing," kata Cochrane.

Gili Trawangan pasca-gempa Lombok, NTB.Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Gili Trawangan pasca-gempa Lombok, NTB.


Beberapa tim telah mengirimkan bantuan medis dan membagikan kebutuhan dasar untuk para korban. Ia menjelaskan bahwa banyak korban telah kehilangan anggota keluarganya dan membutuhkan dukungan.

Menurut Cochrane, mereka sedang membahas tentang bantuan internasional yang diperlukan dalam mengatasi bencana gempa Lombok, NTB.

(sab/nat)