Denuklirisasi Senjata, Korut Pertahankan Teknologi Nuklir

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Sabtu, 11/08/2018 02:49 WIB
Denuklirisasi Senjata, Korut Pertahankan Teknologi Nuklir Menlu Korea Utara Ri Yong Ho. (Reuters/Dondi Tawatao)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Ri Yong Ho mengatakan Korea Utara akan terus mempertahankan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir meski telah berjanji kepada Amerika Serikat akan melucuti seluruh senjata penghancur massalnya .

Ri menegaskan Korut akan tetap mempertahankan pengetahuan tentang nuklir karena menilai Amerika tidak menghentikan kebijakan bermusuhannya terhadap Pyongyang. Padahal, kedua pemimpin negara telah menyepakati perjanjian denuklirisasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korut pada 12 Juni lalu di Singapura.

"Menghadapi Amerika itu sulit. Karena tujuan utama kami adalah pelucutan senjata secara total di Semenanjung Korea, perlu bagi Amerika juga untuk mematuhi komitmen mereka. Tapi mereka [AS] menolak untuk mematuhinya," ucap Ri di Teheran, Iran, saat melakukan kunjungan kerja seperti dikutip media lokal kantor berita Mehr, Jumat (10/8).




Baru-baru ini, Pyongyang juga menganggap AS ingkar janji terhadap semangat dialog antara Trump dan Kim Jong-un di Singapura lantaran "terus menghasut" negara lain menekan Korut dengan sanksi.

Korut juga merasa tersinggung dengan sikap Menteri Luar Negeri Mike Pompeo yang mendesak negara-negara untuk terus menekan Pyongyang sampai proses denuklirisasi berjalan sepenuhnya dalam forum Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN) di Singapura pada pekan lalu.

Pernyataan Ri tersebut diutarakan saat dia bertemu ketua parlemen Iran yang cukup berpengaruh, Ali Larijani, di hari ketiga lawatannya di negara Timur Tengah tersebut.

Dalam kesempatan itu, Larijani mengaku setuju dengan penilaian Ri terkait sikap Amerika. "AS kerap mengeluarkan kata-kata indah saat bernegosiasi dan menjanjikan masa depan yang sangat cerah tapi ketika beraksi, mereka tidak mau memenuhi komitmen dan janji mereka," katanya seperti dikutip AFP.

Iran dan Korut selama ini menjadi salah satu negara yang dianggap 'nakal' oleh  Amerika Serikat, sekaligus menjadi ancaman terbesar keamanan nasional AS. Salah satunya karena memiliki senjata nuklir.

Meski begitu, relasi antara AS-Korut berangsur mereda sejak awal tahun ini, terutama setelah Trump dan Kim Jong-un sepakat bertemu untuk pertam akalinya dalam sejarah.

Di sisi lain, hubungan Washington-Teheran disebut tengah berada di titik terendah selama beberapa bulan terakhir khususnya setelah Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran yang disepakati 2015 lalu.

Ketegangan kedua negara semakin memanas ketika Gedung Putih menjatuhkan kembali serangkaian sanksi yang pernah dicabut AS di bawah kesepakatan nuklir tersebut terhadap Iran pada awal pekan ini. (nat)