Rusia-China Tolak Sanksi AS atas Bank Rusia soal Korut

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 17:52 WIB
Rusia-China Tolak Sanksi AS atas Bank Rusia soal Korut Rudal Korea Utara. (KCNA/via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia dan China menolak permintaan Amerika Serikat untuk menambah Bank Rusia ke dalam daftar hitam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama dengan dua pejabat Korea Utara dan dua perusahaan lainnya, Kamis (9/8).

Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS meminta komite sanksi PBB untuk membekukan aset di Agrosoyuz Commercial Bank of Moscow karena diduga membantu Korea Utara menghindari pembatasan transaksi keuangan yang diterapkan oleh PBB, pada pekan lalu.

Permintaan itu juga menargetkan Ri Jong Won, Wakil Gubernur Bank Perdagangan Luar Negeri Korea Utara dan dua perusahaan Korea Utara, yaitu Perusahaan Industri Dan Perdagangan Dandong Zhongsheng dan Perusahaan Ungum Korea.


Berdasarkan tanggapan dari anggota dewan, Rusia meragukan tuduhan itu, sementara China mengaku keberatan dengan usulan sanksi yang diajukan oleh Amerika Serikat.

"Kami ingin menggarisbawahi bahwa permintaan yang diajukan kepada komite harus dibuktikan dengan informasi yang memadai," kata perwakilan Rusia kepada PBB dalam surat terbuka, seperti dilansir kantor berita AFP.

Rusia dan China telah meminta Dewan Keamanan PBB agar mempertimbangkan untuk meringankan sanksi dan memberikan penghargaan kepada Korea Utara karena berani membuka dialog dengan AS dan mendiskusikan mengenai penghentian uji coba rudal.

Tetapi AS tetap menyerukan untuk pertahanan secara maksimal dari sanksi PBB sampai Korea Utara sepenuhnya menghentikan program nuklir dan rudalnya.

Menteri Luar Negeri Korea Utara telah mengeluarkan penyataan yang mengecam Amerika Serikat karena menanggapi tawarannya dengan memberikan sanksi dan tekanan internasional, pada Kamis (9/8).

Pada tahun lalu, anggota dewan telah memberikan tiga sanksi yang menargetkan ekonomi Korea Utara melalui larangan ekspor impor dan pembatasan perbankan.

Rusia dan China menghabiskan enam bulan untuk menahan permintaan AS menghentikan semua pengiriman produk minyak ke Korea Utara, pada 19 Juli lalu.

Resolusi sanksi dari PBB menempatkan Korea Utara berada di posisi teratas penghentian 500.000 barel produk minyak olahan per tahun dan empat juta barel minyak mentah.

China harus menghentikan pengiriman minyak dan bahan bakar yang memasok sebagian besar kebutuhan energi dari Korea Utara dan Rusia yang mengirimkan sejumlah minyak ke Pyongyang. (cin/nat)